Tak Cukup Agar Maksud Dipahami
Bahasa tulis merupakan salah satu alat menyampaikan pesan. Pesan yang disampaikan mengandung maksud tertentu dari si penyampai pesan. Salah satu faktor bisa-tidaknya maksud dipahami yaitu bahasa. Maksud baik, namun disampaikan dalam bahasa yang kurang tepat bisa menimbulkan persoalan. Paling sederhana, penerima pesan tidak dengan bisa cepat menangkap maksud yang ingin disampaikan pemberi pesan.
Memang, kadang-kadang
ada pengguna bahasa atau penyampai pesan yang berdalih “yang penting maksudnya
sampai atau dimengerti”. Baginya, kaidah bahasa yang menyangkut struktur,
kalimat, ejaan, logika, bukan hal yang penting dipersoalkan.
Pada situasi tertentu, misalnya dalam komunikasi
lisan non formal atau dalam percakapan di pergaulan sehari-hari, alasan demikian
masih bisa dimaklumi. Akan tetapi, ketika pesan disampaikan dalam bahasa tulis
yang sifatnya satu arah persoalan kaidah bahasa tidak bisa diabaikan. Apalagi
jika pengguna bahasa tulis adalah media, khususnya media cetak. Kekurangtepatan
dalam struktur kalimat atau alinea bisa “mengganggu” pembacaan, meskipun
maksud yang ingin disampaikan penulis bisa dipahami pembaca. Lebih penting lagi, media masih menjadi salah satu acuan
khalayak dalam berbahasa. Jika berulangkali media menulis dengan struktur yang
tidak tepat, maka khalayak akan menganggap cara penulisan seperti itu benar.
Lead berita berjudul ‘Sultan harus
tetap jadi raja’ yang dimuat Harian
Jogja edisi 10 Februari
2009 (hal.1) bisa menjadi contoh dari kekurangtepatan struktur kalimat, meskipun
secara keseluruhan maksud dari pesan yang ingin disampaikan melalui lead
bisa dipahami.
Seutuhnya, lead ditulis demikian:
DANUREJAN— Tampaknya pendukung Sri Sultan
Hamengku Buwono (HB) X untuk mencalonkan diri dalam bursa Pilpres di akar rumput
Merti Nusantara mendapat “counter” dari kelompok baru di masyarakat DIY.
Sepintas lalu, tak ada persoalan dengan pesan yang
disampaikan. Intinya, ada kelompok baru di masyarakat DIY yang “meng-counter”
kelompok akar rumput di Merti Nusantara. Merti Nusantara adalah nama kelompok
pendukung pencalonan diri Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam bursa Pemilihan
Presiden 2009.
Akan tetapi coba cermati struktur kalimat lead ini
(lead ini hanya terdiri dari satu kalimat). Subyeknya adalah pendukung Sri
Sultan Hamengku Buwono (HB) X untuk mencalonkan diri dalam bursa Pilpres di akar
rumput Merti Nusantara. Sebagai
keterangan yaitu mendapat mendapat
“counter” dari kelompok baru di masyarakat DIY.
Struktur alinea ini tidak
bermasalah. Namun, ada sedikit gangguan logika bahasa pada subyek yang berupa
kalimat majemuk. Ketika membaca kalimat majemuk ini timbul pertanyaan: yang
mencalonkan diri dalam bursa Pilpres sebetulnya siapa? Sri Sultan HB X, atau
pendukung Sri Sultan HB X? Sekali
lagi, ini soal kebahasaan saja. Khalayak tahu, yang mencalonkan diri adalah Sri
Sultan HB X.
Susunan kalimat subyek
tersebut akan terasa lebih pas dari sisi kebahasaan apabila sedikit diubah
menjadi … pendukung pencalonan
diri Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di bursa
Pilpres, di akar rumput Merti Nusantara …
Dengan demikian akan lebih jelas dari sisi kebahasaan, siapa yang
mencalonkan diri (dalam bentuk kalimat pasif menjadi pencalonan diri).
Sebetulnya, pertanyaan
lain juga muncul ketika membaca alinea tersebut. Sebetulnya yang mendapat
“counter” siapa? Merti Nusantarakah, atau pendukung pencalonan diri Sultan
di akar rumput Merti Nusantara? Kalau yang pertama, berarti Merti Nusantara
sebagai nama sekumpulan orang yang mendukung pencalonan Sri Sultan yang mendapat
“counter”. Jika yang kedua, maka yang mendapat “counter” hanya sebagian
dari orang-orang di Merti Nusantara yaitu kelompok akar rumput, sedangkan elit
Merti Nusantara tidak.
Agar kalimat tidak rancu,
sebaiknya jurnalis perlu cermat dalam menentukan identifikasi atau pelabelan
terhadap subyek.
Kalau yang dimaksud dalam
berita tersebut adalah Merti Nusantara sebagai sebuah label kelompok, sebaiknya
lead bisa ditulis demikian:
Tampaknya, Merti Nusantara, yaitu pendukung pencalonan diri Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dalam bursa Pilpres mendapat “counter” dari kelompok baru di masyarakat DIY.
Lead ini selain lebih
memperjelas siapa subyeknya, juga lebih hemat (24 kata). Itu saja. Mudah-mudahan
bermanfaat. (ded)






