Fakta dan Berita Tewasnya Ketua DPRD Sumut
HAMPIR semua media, cetak maupun elektronika pada edisi Rabu 4 Februari 2009, menempatkan berita tentang tewasnya Ketua DPRD Sumatera Utara, Abdul Aziz Angkat, sebagai sajian utama. Berita utama itu juga disertai foto sang ketua dewan dengan wajah kepayahan menahan sakit, di tengah kerumunan orang.
Berdasar pengamatan pada dua suratkabar lokal dan empat media nasional,
selain didapat beragam angle atau
sudut pandang atas peristiwa itu, juga diketahui terdapat berbagai versi yang
memaparkan perihal tewasnya Ketua DPRD Sumut itu. Namun, hampir semua memilih
ragam berita straight news.
Tidak semua media menuliskan fakta sesuai dengan peristiwa itu,
terutama menyangkut penyebab tewasnya korban. Hal itu tercermin dari judul yang
digunakan, juga formulasi lead .
Peristiwa tersebut memang mempunyai news
value tinggi. Tentu saja fakta yang lengkap untuk menjelaskan peristiwa
haruslah tepat.
Salah satu fakta penting yang bisa
menjadi perdebatan adalah tentang penyebab tewasnya Ketua DPRD Sumut itu.
Betulkah pengeroyokan dan pemukulan menyebabkan korban meninggal? Atau
pengeroyokan itu menjadi pemicu, terutama menyangkut kondisi korban,
yang mengakibatkan korban kemudian meninggal dunia?
Berikut kutipan judul dan lead
dari beberapa media yang diamati:
|
NO |
NAMA MEDIA |
JUDUL |
LEAD |
KETERANGAN |
|
1. |
Kedaulatan Rakyat |
Aksi
Geruduk Berakhir Rusuh (upper)
Demo Anarkis, Ketua DPRD Sumut Tewas |
Ketua
DPRD Sumatera Utara H Abdul Aziz Angkat meninggal dunia setelah digeruduk
para pengunjuk rasa pro pembentukan Propinsi Tapanuli Utara di gedung DPRD
Sumut di Medan Selasa (3/2). Kejadian tragis itu terjadi ketika sekitar
2.000 orang bertindak brutal dan memaksa agar Aziz bersedia memenuhi
permintaan para demonstran. |
Posisi
berita kedua halaman 1 |
|
2. |
Suara Merdeka |
Ketua
DPRD Tewas Dikeroyok Demonstran
*Pelaku
Tuntut Pembentukan Provinsi Tapanuli (under) |
Ketua
DPRD Sumatera Utara Abdul Aziz tewas setelah dikeroyok demonstran yang
menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli. Massa juga melakukan perusakan
bangunan. |
Berita
Panji, (sesuai lebar koran -8 kolom) menggunakan huruf merah. |
|
3. |
Koran Tempo |
Demo
Maut
*
Polisi harus memberikan penjelasan (under) |
Aksi
Massa menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli di gedung Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Sumatera Utara, kemarin, berujung maut. Ketua Dewan Abdul
Aziz Angkat meninggal setelah sempat dipukuli massa yang marah. Massa
menuntut pembentukkan Provinsi Tapanuli segera terwujud. |
|
|
4. |
Republika |
Ketua
DPRD Sumut Tewas
*
Empat Tokoh pembentukan Provinsi Tapanuli ditahan (under) |
Rapat
Paripurna DPRD Sumatera Utara berakhir rusuh ketika seribuan orang
demonstran pendukung pembentukan Provinsi Tapanuli membubarkan rapat dewan,
Selasa (3/2). Ketua DPRD Sumatera Utara (Sumut), Abdul Aziz Angkat, yang
memimpin rapat, meninggal saat insiden anarki itu. |
|
|
5. |
Kompas |
Polisi
Periksa 13 Saksi Aksi Anarki di Medan
*
Golkar dan Keluarga Abdul Aziz Tuntut Pengusutan |
Hingga
pukul 23.00, Kepolisian Kota Besar Medan memeriksa 13 orang yang diduga
menjadi otak dan pelaku unjuk rasa anarki. Polisi sudah menetapkan
sejumlah tersangka, dan pemeriksaan di Markas Poltabes berlangsung dalam
penjagaan ekstra ketat. |
Berita
sudah lebih maju, tidak lagi mengulang
fakta apa yang terjadi pada peristiwa
tersebut. |
|
6. |
Media Indonesia |
Tuntut
Pemekaran Bikin Tewas Ketua DPRD |
Unjuk
rasa menuntut pemekaran provinsi berujung maut. Selain merusak Gedung DPRD
Provinsi Sumatra Utara, massa pendukung pembentukan provinsi Tapanuli juga
menyerang Ketua PDRD Sumut Abdul Aziz Angkat. Akibatnya, Angkat terkena
serangan jantung dan meninggal dunia setiba di Rumah Sakit Gleni Medan. |
|
Dari enam suratkabar tersebut, diketahui hanya Media
Indonesia yang langsung memberitakan penyebab sang ketua dewan meninggal
akibat terkena serangan jantung, tercermin pada teras beritanya . Dengan lugas Media
Indonesia melaporkan bahwa demo menuntut pemekaran provinsi itu membuat
ketua DPRD meninggal, karena sang ketua terkena serangan pada jantungnya.
Meski demikian, Koran
Tempo sudah mengutip keterangan
dokter RS Gleneagles Medan, Kulman Saragih, yang mengatakan “Faktor penyebab
kematian korban lebih pada serangan jantung,” kata Kulman. Hanya saja
keterangan itu berada pada alinea kelima di halaman pertama. Adapun berita
lanjutan mengenai hal ini, berada di halaman kedua, juga mengetengahkan
keterangan polisi dengan judul: Polisi
Menduga Aziz Tewas Karena Serangan Jantung.
Sedangkan Republika lebih
memaparkan sesuai fakta di lapangan bahwa korban tewas saat insiden anarki itu
terjadi. Tidak ada penilaian atas peristiwa atau keterangan penyebab tewasnya
korban.
Pilihan Kompas berbeda, karena
menempatkan berita itu dalam posisi sebagai berita lanjutan (follow up news). Pilihan ini mungkin didasarkan pada kenyataan bahwa
berita tentang peristiwa Medan itu telah diketahui khalayak melalui siaran
berita televisi sehari sebelumnya. Namun, sebenarnya belum tentu semua pembaca
sudah mengetahui dengan jelas atas apa yang terjadi. Kalau pun sudah, mereka
juga berharap bisa mengetahui lebih detil melalui suratkabar. Penjelasan
mengenai kronologi dan penyebab tewasnya korban, memang masih bisa didapatkan
dalam tubuh berita yang diberi sub judul Kronologi
insiden (alinea 11- halaman 15).
Barangkali yang mencolok adalah sajian Suara
Merdeka. Judul yang dipilih bisa diperdebatkan. Benarkah pengeroyokan itu
menyebabkan korban tewas? Padahal, dalam grafis kronologi peristiwa yang
ditempatkan di bawah judul, sudah ada keterangan tentang hasil pemeriksaan
sementara bahwa Abdul Aziz Angkat meninggal karena terserang penyakit jantung.
Bukankah judul merupakan bagian dari struktur berita yang pertama dilihat
pembaca? Dengan demikian, dari judul pembaca sudah bisa mengetahui apa yang
terjadi. Menjadi pertanyaan, paling tidak dalam berita Suara Merdeka itu,
bagaimana fakta sebenarnya tentang penyebab tewasnya sang ketua DPRD Sumut.
Apakah akibat dikeroyok atau terkena serangan jantung?
Sajian Kedaulatan Rakyat juga senada, artinya tidak dengan jelas dan lugas
melaporkan fakta. Dengan pilihan judul demikian, masih bisa dipertanyakan,
benarkah akibat demo anarkis sang ketua dewan tewas? Atau memang ada penyebab
lain? Dalam lead tidak tercermin
keterangan itu. Kalimat meninggal setelah
digeruduk para pengunjuk rasa pada lead
tidak cukup kuat mendukung informasi seperti apa sebenarnya fakta yang terjadi.
Selain itu, menyangkut akurasi juga bisa jadi pertanyaan selanjutnya. Dalam leadKedaulatan Rakyat ditulis sekitar
2.000 orang bertindak brutal. Tentu jumlah yang sangat besar. Namun,
benarkah fakta itu? Khalayak, terutama pemirsa televisi, bisa menyaksikan
seberapa banyak kira-kira jumlah demonstran yang berada di gedung DPRD Sumut
saat itu. Suara Merdeka, pada alinea
kedua menuliskan fakta itu dengan kalimat: Jumlah
mereka sekitar 750 orang. Media lain hanya menuliskan aksi massa, tanpa menyebut angka. (awd)






