Presentasi Foto Dokujurnalisme
Bagaimana membuat foto untuk keperluan
dokumentasi kegiatan namun foto-fotonya juga mempunyai nilai sebagai foto
jurnalisme, sehingga tidak sekadar memadai untuk arsip penyelenggara kegiatan?
Jawabannya adalah Foto Dokujurnalisme.
Jumat (17/7/09) sore lalu, staf LP3Y,Dedi H Purwadi, mempresentasikan konsep ini pada Diskusi Foto Dokujurnalisme di kantor ICBC (Institute for Change and Cultural Behavior), Jalan Ki Mangunsarkoro, Yogyakarta. Diskusi dihadiri sekitar 20 peserta, antara lain pegiat LSM, pegiat pers mahasiswa, peminat foto dan staf ICBC.
Menurut Dedi, yang pernah menjadi jurnalis dan editor foto di sebuah suratkabar di Yogyakarta, foto Dokujurnalisme tidak dimaksudkan sebagai cabang baru fotografi maupun fotojurnalisme. Foto Dokujurnalisme tak lebih sebagai “label” dalam kerja membuat foto dokumentasi kegiatan dengan pendekatan foto jurnalisme.
Untuk kerja ini, katanya, pemotret selalu dituntut dua hal. Pertama, dan terpenting adalah ketika melihat subyek berpikir sebagai jurnalis lebih dahulu, baru bekerja atau bertindak sebagai fotografer. Dan intinya, setiap foto yang dihasilkan haruslah selalu didasari oleh prinsip bahwa ini merupakan medium untuk menyampaikan cerita atau pesan kepada publik.
Pada diskusi yang berlangsung hingga magrib itu, Dedi, mempresentasikan sejumlah slide foto yang dibuat selama dia menjadi Field Coordinator Program Terpadu Pemulihan Sosial Ekonomi Pascagempa Bantul Jejaring Ford Foundation (Mei 2007-April 2008). Sebagian foto ditampilkan dalam buku foto Bersama Pulihkan Bantul terbitan LP3Y yang saat ini dalam proses cetak (*)






