Berkawan dengan Penderita HIV/AIDS? Bagaimana …?

Diterbitkan: 18 November 2009 E-mail PDF Print Share on Facebook

Di tengah gencarnya pemberitaan kasus KPK (Bibit-Chandra) versus Polri, sidang pembunuhan Nasruddin yang menyeret bekas Ketua KPK Antasari Azhar dan menyusul perkara Bank Century, sebuah karya jurnalisme yang di kalangan jurnalis dikelompokkan dalam jenis berita soft menyeruak dan mencuri perhatian pembaca. 

Harian Media Indonesia (MI) edisi Rabu 18 November 2009 di halaman 21 (rubrik Kesehatan) menurunkan reportase tentang HIV/AIDS  berjudul Berkawan dengan Penderita HIV/AIDS? dengan sub judul Apa rasanya dikucilkan dari masyarakat saat mereka tahu kita menderita HIV/AIDS?

Laporan tersebut mencuri perhatian pembaca terutama karena, pertama, judulnya mengusik keingintahuan pembaca dan judul tersebut dibuat dengan ukuran yang memang eye catching (fontsize cukup besar dan bisa terbaca jelas dari jarak tiga meter); kedua, space atau ruang yang disediakan memakan hampir tiga perempat halaman (mengesankan isi laporan ini sangat penting dan menarik sehingga diberi porsi cukup besar); dan ketiga, infografis berjudul Persentase Kasus AIDS di Indonesia Berdasarkan Cara Penularan di bagian atas laporan disajikan mencolok, terutama dalam ukuran (lima kolom dan tinggi 5 cm).

Catatan ini tidak akan mengulas aspek-aspek teknis penyajian, seperti judul maupun infografis yang besar atau pun besar kecilnya space yang disediakan, melainkan mengulas informasi yang disajikan. Apakah informasi dalam laporan sepanjang 9 alinea, ditambah satu boks sepanjang 8 alinea, ini memberikan jawaban atas pertanyaan sebagaimana menjadi judul laporan tersebut.

Tatkala membaca judul Berkawan dengan Penderita HIV/AIDS? Ada beberapa informasi yang ingin diketahui pembaca, antara lain: seperti apa “berkawan dengan penderita HIV/AIDS”? Sulitkah? Bermasalahkan ataukah  tidak apa-apa? Siapakah yang berkawan dengan penderita HIV/AIDS? Apa pengalamannya? Apakah setiap orang bisa berkawan dengan penderita HIV/AIDS? Kalau ya, mengapa dan bagaimana? 

Lalu, begitu membaca subjudul (subhead) yang juga berupa pertanyaan Apa rasanya dikucilkan dari masyarakat saat mereka tahu kita menderita HIV/AIDS? Pembaca ingin mendapat jawaban melalui laporan tersebut mengenai fakta pengalaman orang dengan HIV/AIDS yang dikucilkan (atau mendapat stigma dari lingkungan, didiskriminasi, dsb), dan apa dampak pengucilan tersebut bagi kehidupannya. Dimaklumi bahwa maksud si jurnalis membuat sub judul ini mungkin untuk mengajak pembaca bisa berempati kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA), sehingga tidak mengucilkan ODHA, siapapun dia dan apapun latarbelakang sosialnya.

Apakah pertanyaan-pertanyaan pembaca tersebut terjawab di laporan yang relatif panjang itu? Semestinya, dengan artikel sepanjang itu pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa terjawab.

Mengawali laporan, kisah dibuka dengan cerita seorang balita bernama Tasya (3,5) dan ibunya. Kedua warga Jakarta yang tinggal di sebuah kamar kos berukuran 2x2 meter itu positif mengidap HIV. Mereka dari keluarga berkecukupan. Rumah keluarga besar mereka tak jauh dari  tempat kos ibu-anak itu.

“Namun sanak famili Tasya, termasuk neneknya, menjauhi mereka. Bahkan, Tasya diwajibkan selalu memakai pokok karena keluarga khawatir akan tertular HIV melalui air seninya,” (alinea ke-2 ).

Cerita Tasya berakhir di alinea ke-3, yang secara singkat menyebutkan bahwa Tasya sejak kecil hanya ditemani aneka macam boneka. Tidak ada teman nyata baginya.

Alinea ke-4 cerita beralih ke sosok Ahmad, seorang pemuda pengidap HIV karena dia pernah menjadi pecandu narkoba suntik. Alinea ke-5 menceritakan secara singkat bahwa Ahmad tidak putus asa. Dengan terus bekerja, dan disemangati istri dan orang-orang di sekitarnya, Ahmad aktif membantu para pecandu narkoba yang ingin lepas dari ketergantungan.

Cerita Tasya, ibunya dan Ahmad, menurut si jurnalis, dikutip dari tayangan MP4 player berdurasi 20 menit yang bisa diakses pengunjung pameran interaktif HIV/AIDS bertajuk One Life Evolution, Jumat (13/11), di Lapangan Parkir Dunia Fantasi Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta (alinea ke-6).

Adakah dari cerita lima alinea itu informasi yang bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan penting di atas? Amat sedikit, kalau tidak bisa disebut tak ada sama sekali.

Apakah pada alinea-alinea berikutnya pertanyaan-pertanyaan itu terjawab? Tidak juga. Sangat disayangkan, bahwa informasi-informasi yan tertuang dalam 14 alinea setelah cerita Tasya-ibunya dan Ahmad itu, justru lebih banyak tentang pameran. Kalau pun ada pesan yang ingin disampaikan, melalui pernyataan salah seorang panitia, itupun tak menyinggung tentang bagaimana Berkawan dengan Penerita HIVAIDS? Begitu pula, dari cerita di awal laporan, pembaca pun tak bisa serta merta merasakan Apa rasanya dikucilkan dari masyarakat saat mereka tahu kita menderita HIV/AIDS?

Apakah dalam boks juga pembaca mendapatkan jawabannya? Tidak juga. Sebab, boks bercerita tentang hal teknis berkaitan dengan faktor penyebab meningkatnya jumlah pengidap HIV, jumlah layanan VCT (Voluntary Counceling and Testing) di seluruh provinsi, dan cara pencegahan (menggunakan kondom).

Sekali lagi sangat disayangkan bahwa dengan space cukup leluasa itu jurnalis tidak membantu pembaca untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, termasuk pertanyaan yang dikemas melalui judul laporan. Padahal, mungkin saja dalam tayangan kisah Tasya-ibunya atau Ahmad, tersedia jawaban-jawabannya.

Atau jika itu pun tidak ada, jurnalis bisa membantu pembaca untuk mendapatkan pemahaman bahwa berteman dengan pengidap HIV/AIDS bukanlah masalah asalkan kita tahu tentang penularan HIV (untuk meluruskan kesalahpahaman bahwa HIV bisa menular melalui air seni seperti pada kisah Tasya di alinea ke-2).

Untuk itu, kalau jurnalis tak yakin dengan pengetahuan yang dimilikinya, bukankah dia bisa mengutip berbagai informasi yang relevan tentang penularan dan bagaimana cara memperlakukan pengidap HIV dari paparan-paparan pada display di ruang pameran. Bukankah dalam laporan itu jelas-jelas diceritakan …melalui tulisan di dinding kayu, foto, serta pernak-pernik yang sangat mendukung alur cerita tiap ODHA (alinea ke-9). Ini artinya ada informasi untuk dibagikan ke pembaca. Kemudian, dideskripsikan …di ujung labirin, ada ruang reaktif tempat pengunjung bisa membaca di kedua sisi dindingnya yang bertuliskan tentang stigmatisasi penderita HIV/AIDS oleh masyarakat dan dukungan seperti apa sebenarnya yang dibutuhkan para ODHA (alinea ke-10).

Mengapa informasi-informasi penting itu tidak dibagikan kepada pembaca. Jelas, tak semua pembaca berkesempatan mengunjungi pameran (bisa karena jarak, waktu atau alasan lain). Jurnalis seharusnya menjadi mata bagi pembacanya. Dia dititipi oleh khalayak mata dan telinga untuk melihat dan mendengar realitas (termasuk informasi di ruang pameran HIV/AIDS) lalu menceritakannya kepada publik apa yang dilihat dan didengarnya.

Fakta penulisan laporan ini mengingatkan saya kepada kerapnya muncul keluhan para jurnalis dalam tiap pelatihan penulisan HIV/AIDS. Mereka mengeluhkan tak leluasanya menulis persoalan HIV/AIDS, space yang disediakan seringkali kecil, sehingga tak bisa memberikan informasi lengkap dan memadai ke pembaca. Nah, ketika space yang disediakan begitu longgar, bahkan sangat memadai (27 alinea), alasan apa lagi yang akan dikemukakan ketika pertanyaan-pertanyaan sederhana di atas tak terjawab, padahal sesungguhnya tersedia. (dedi h purwadi)

 

 

 

Komentar

06 March 2010 - Oleh : bbvdkcb
75tOW8 zmamvwudaqor, [url=http://nqykyvdolgwd.com/]nqykyvdolgwd[/url], [link=http://dvxdhkxjrwbp.com/]dvxdhkxjrwbp[/link], http://mstaabaqfwqm.com/

06 March 2010 - Oleh : rfqvqtonnlj
yVWhhc cboectcuffgs, [url=http://cwwfudcvumim.com/]cwwfudcvumim[/url], [link=http://mnolgfplddtj.com/]mnolgfplddtj[/link], http://tihkrrgtnkyq.com/

Kirim Komentar

Nama:
E-Mail:
 
 
 


newsFLASH

 Pemred majalah Playboy, Erwin Arnada, tidak puas dengan putusan MA yang memvonis dirinya 2 tahun penjara. Erwin akan mengajukan peninjauan kembali (PK) karena menilai putusan hakim keliru."Majelis hakim telah khilaf dan melakukan kekeliruan yang nyata karena tidak menggunakan UU Pers sebagai acuan dalam kasus ini," ujar kuasa hukum Erwin, Todung Mulya Lubis dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (6/9). "Playboy adalah majalah yang serius, bukan majalah yang ecek-ecek. Oleh karena itu Playboy adalah suatu media sehingga harus tunduk pada hukum pers," ujar Todung.(detikNews 6/9/10: 15.01 WIB) 

Arahkan kursor untuk berhenti!


dari Kami
outstandingPROGRAM
• Program Media Watch untuk LSM
• Pelatihan Jurnalistik Offline bagi Jurnalis
• Pelatihan Jurnalistik Offline bagi Guru Pembimbing Mading
buku-terbitan LP3Y
Buku Terbitan LP3YDaftar buku terbitan LP3YKLIK disini.Jika kesulitan mendapatkannya, kontak kami di BAGIAN PENJUALAN.
Pembayaran trf ke rek : BNI cab.UGM Bulaksumur a/c.39226785 a/n. LP3Y
POLLING
          Google Search Engine

Hit Counter

counters

Radio Suara LP3Y

Radio Suara LP3Y

LP3Y Youtube