LP3Y Ikut Meriahkan Pawai Hari AIDS
Berbagai poster, spanduk dan aneka atribut yang dibawa
peserta pawai, tercermin bahwa diskriminasi di tengah masyarakat masih cukup
tinggi, terutama terhadap ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Salah satu poster yang
bertuliskan “Musuhi penyakitnya, bukan
orangnya” mewakili penilaian itu. Satu kelompok barongsay memeriahkan
pawai. Suasana penuh keceriaan, apalagi ketika masyarakat memberi aplaus meriah
kepada kelompok waria Kebaya dan
pondok pesantren Al Fattah Yogyakarta, yang seluruh anggotanya, termasuk
pemimpinnya, Maryani, adalah kaum waria.
Para peserta pawai selain membawa spanduk atau poster imbauan agar masyarakat tidak mengucilkan pengidap HIV/AIDS, dan memberi perlakuan sama sebagaimana kepada masyarakat lain, juga membagi-bagikan setangkai bunga berwarna merah kepada anggota masyarakat yang menyemut di sisi kiri maupun kanan Jalan Malioboro, untuk menyaksikan pawai itu.
Jalan Malioboro yang lebarnya hanya sekitar empat meter itu, dibagi dua selama pawai berlangsung. Sebelah kiri untuk lalulintas kendaraan, separo sebelah kanan untuk peserta pawai yang berjalan kaki menuju Alun-Alun Utara Yogyakarta sebagai titik akhir pawai.
Peserta pawai antara lain dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DIY, Dinas Kesehatan. Akan halnya kru LP3Y, sebanyak tujuh personel, dipimpin Slamet Riyadi Sabrawi yang juga adalah anggota KPA DIY, mengikuti pawai sejak awal hingga akhir. Meski tanpa atribut atau membawa spanduk dan rombongan terselip di belakang barisan kelompok waria Kebaya.
Sekitar satu jam pawai berlangsung mengisi ruang Jalan Malioboro sore itu. Pukul 15.30 WIB, para peserta mengakhiri pawai memperingati Hari AIDS Sedunia tahun 2009, di Alun-alun Utara Yogyakarta. (awd)






