HIV dan AIDS dalam Berita Suratkabar
Kesalahan Penulisan Masih Berlanjut
Oleh : Rondang PasaribuDua puluh
tahun lebih masalah HIV dan AIDS telah menjadi salah satu isu pemberitaan
suratkabar di negeri ini. Kini setelah dua puluh tahun lebih, muncul pertanyaan
berikut: Apakah berita suratkabar tentang masalah HIV dan AIDS bisa dikatakan
sudah terbebas dari kesalahan penulisan?
Merunut ke belakang, masalah HIV dan AIDS ini sempat menjadi isu yang penuh kontroversi dalam pemberitaan suratkabar. Pasalnya, banyak pihak, tak kecuali jurnalis yang menulis berita tentang masalah terkait, masih memiliki pemahaman keliru mengenai masalah HIV dan AIDS. Sebagai misal, awalnya tidak sedikit pihak beranggapan bahwa yang mungkin tertular HIV hanyalah orang Barat, dan itu merupakan kutukan atas perilaku mereka yang menyimpang. Ketika
masalah HIV dan AIDS menjadi isu kontroversial karena pemahaman keliru, boleh
dikata suratkabar – termasuk media massa lain seperti televisi – memiliki andil
dalam penyebarluasan pemahaman keliru itu. Pasalnya, tidak sedikit jurnalis yang belum memahami secara benar
masalah HIV dan AIDS. Berita masalah
HIV dan AIDS tidak hanya diwarnai kesalahan penulisan bersifat teknis atau
penggunaan istilah yang tidak tepat. Bahkan yang lebih parah, jurnalis ikut menguatkan pemahaman keliru yang
berkembang di tengah masyarakat melalui berita yang lebih menonjolkan sensasi,
mengandung mitos, dan sebagainya.
Belakangan,
pemahaman para jurnalis tentang masalah HIV dan AIDS semakin baik. Pemahaman yang benar menjadi bekal bagi
mereka untuk menulis berita tentang masalah HIV dan AIDS secara benar pula.
Dengan kata lain, berita suratkabar semakin baik dalam menyampaikan informasi
yang benar tentang masalah HIV dan AIDS.
Kesalahan penulisan pada berita suratkabar tentang masalah HIV dan AIDS diangkat menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini berangkat dari kenyataan bahwa jumlah orang yang terinfeksi HIV semakin meningkat dari tahun ke tahun. Ini mengisyaratkan bahwa penyebarluasan informasi yang benar mengenai cara yang harus dilakukan agar tidak terinfeksi HIV merupakan keniscayaan. Peran media massa – termasuk suratkabar – jelas tidak bisa diabaikan dalam upaya ini. Maka, kesalahan penulisan jelas harus dihindarkan. Salah Ejaan dan
Istilah Tak Tepat
Ada dua
kategori kesalahan penulisan yang diamati sesuai dengan pokok bahasan dalam
tulisan ini. Pertama, kesalahan
bersifat teknis, semisal penulisan huruf besar/kecil, penulisan ejaan, atau
penulisan singkatan. Kedua, penggunaan istilah yang tidak tepat.
Kesalahan bersifat teknis diamati karena
kesalahan ini, selain
terasa mengganggu, bisa menjadi petunjuk untuk menemukan penggunaan istilah
yang tidak tepat. Artinya, ada
kecurigaan, kesalahan penulisan bersifat teknis tidak semata-mata menunjukkan
ketidak-cermatan, namun ada kemungkinan berhubungan dengan pemahaman yang
kurang atas masalah yang ditulis.
Penggunaan
istilah yang tidak tepat diamati karena dua alasan. Di satu sisi, penggunaan
istilah yang tidak tepat terjadi karena penulis tidak memiliki pemahaman yang
baik atas masalah yang ditulis. Di sisi lain, penggunaan istilah yang tidak
tepat menyebabkan suatu masalah dipahami secara keliru oleh pembaca, dan pada
gilirannya pemahaman yang keliru menyebabkan suatu masalah disikapi secara
keliru pula.
Untuk
memperoleh gambaran lengkap mengenai kesalahan penulisan yang mungkin ditemukan
pada berita suratkabar, tentu diperlukan pengamatan menyeluruh dengan langkah
yang metodologis dan sistematik. Namun, demi alasan praktis, pengamatan atas
berita suratkabar tentang masalah HIV dan AIDS dilakukan dengan mengakses situs internet yang mengarsip
kliping berita masalah tersebut, dengan alamat: aids-ina.org. Cara ini
ditempuh mengingat tujuan pengamatan semata-mata adalah untuk menunjukkan
beberapa kesalahan penulisan masih ditemukan pada berita masalah HIV dan
AIDS.
Situs aids-ina.org diakses tanggal 9 Desember 2009. Dan setelah membaca secara cermat berita-berita yang ditampilkan, ditemukan beberapa contoh kesalahan penulisan seperti berikut, disertai catatan penjelasan atas setiap kesalahan:
Catatan:
Kesalahan penulisan di atas ditemukan pada berita yang dimuat suratkabar berikut: Kompas (09/12/09), Harian Analisa (9/12/09), Waspada on line (09/12/09), Harian Berita Sore (09/12/09, Samarinda Pos (08/12/09), Sriwijaya Post (08/12/09),Duta Masyarakat(08/12/09), Kedaulatan Rakyat (07/09/09). Apabila dicermati lebih lanjut pada berita yang dapat dibaca pada situs dimaksud, sebenarnya masih banyak jenis kesalahan penulisan yang bisa ditemukan. Salah satu contoh yang patut diketengahkan adalah penulisan judul berita berikut ini:
Hii..! Seorang PNS di Blitar
Terinfeksi HIV/AIDS
(Berita Jatim, 07-12-09) Kalimat judul tersebut (selain mengandung kesalahan penulisan, seharusnya cukup terinfeksi HIV – lihat catatan di atas) bisa dimaknai sebagai ungkapan perasaan ngeri atau jijik si penulis, dan itulah pesan yang sampai ke pembaca. Cara penulisan seperti itu jelas tidak sesuai dengan etika penulisan dalam jurnalisme. Juga tidak sesuai dengan pedoman penulisan berita masalah HIV dan AIDS, yang menyarankan bahwa penulisan masalah HIV dan AIDS seyogyanya disertai empati (lihat buku 11 Langkah Memahami AIDS: Pegangan Wartawan, terbitan LP3Y – KPA Nasional, Edisi Revisi 2008). Kembali ke
hasil pengamatan di atas. Seperti diutarakan
terdahulu, beberapa kesalahan yang ditampilkan lebih dimaksudkan untuk
menunjukkan masih ditemukan kesalahan penulisan terkait masalah HIV dan AIDS
pada berita suratkabar. Sehubungan dengan itu, ada hal yang penting
dikemukakan.
Kesalahan
penulisan, apakah bersifat teknis atau penggunaan istilah yang tidak tepat,
tidak hanya ditemukan pada berita suratkabar tertentu atau hanya pada berita
yang sama meski diterbitkan suratkabar berbeda. Penggunaan istilah yang tidak
tepat ternyata menggejala dalam arti bisa ditemukan berita yang berbeda dan
diterbitkan oleh suratkabar yang berbeda pula. Pengamatan terpisah (hasil pengamatan tidak disertakan) dengan membaca
berbagai berita masalah HIV dan AIDS yang selama minggu pertama Desember 2009
ini banyak dimuat berbagai suratkabar
sehubungan dengan Hari AIDS Sedunia 1 Desember, banyak kesalahan serupa
ditemukan yang memperkuat simpulan tersebut.
Kemudian, dengan mencermati catatan atas kesalahan
penulisan pada hasil pengamatan, bisa dikatakan bahwa hal itu terjadi
karena jurnalis yang bertanggungjawab
atas setiap berita yang mengandung kesalahan itu tidak memiliki pemahaman yang
memadai mengenai masalah HIV dan AIDS. Perlu dicatat, jurnalis yang dimaksud terdiri atas dua pihak: reporter sebagai penulis berita dan redaktur
sebagai penyunting yang sekaligus memutuskan pemuatan berita tersebut.
Mengenai yang
dikemukakan belakangan, ada dua kemungkinan yang menyebabkan hal itu
terjadi. Pertama, berita yang ditulis
reporter dimuat tanpa melalui prosedur standar, jadi tidak melalui pemeriksaan
dan penyuntingan oleh redaktur. Padahal, reporter tersebut tidak memiliki
pengetahuan atau pemahaman yang baik atas masalah HIV dan AIDS, tidak pula
menguasai standar penulisan terkait masalah tersebut. Kedua, berita yang
ditulis reporter telah diperiksa oleh redaktur. Namun, seperti reporter,
redaktur tidak memiliki pengetahuan atau pemahaman yang baik atas masalah HIV
dan AIDS, tidak pula menguasai standar penulisan terkait masalah tersebut.
Kenyataan
tersebut memprihatinkan. Bukan saja karena – sebagaimana dipaparkan di atas –
penggunaan istilah yang tidak tepat menyebabkan masalah HIV dan AIDS akan dipahami pembaca secara keliru dengan akibat
masalah itu disikapi secara keliru pula. Lebih dari itu, seolah waktu berputar kembali ke masa lalu, saat awal
masalah HIV dan AIDS mulai menjadi isu pemberitaan suratkabar. Saat itu, tak sedikit jurnalis melakukan
kesalahan penulisan sewaktu menulis berita tentang masalah terkait. Dan kesalahan
penulisan yang dilakukan dulu tak jauh beda dengan hasil pengamatan di atas.
Menghindari penularan kesalahan
|
|||||||||||||



