-Newsletter
              EDISI 12/ Desember 2009


Media dan Jurnalisme
E-mail PDF Print Share on Facebook

HIV dan AIDS dalam Berita Suratkabar

Kesalahan Penulisan Masih Berlanjut

Oleh : Rondang Pasaribu


Dua puluh tahun lebih masalah HIV dan AIDS telah menjadi salah satu isu pemberitaan suratkabar di negeri ini. Kini setelah dua puluh tahun lebih, muncul pertanyaan berikut: Apakah berita suratkabar tentang masalah HIV dan AIDS bisa dikatakan sudah terbebas dari kesalahan penulisan?

Merunut ke belakang, masalah HIV dan AIDS ini sempat menjadi isu yang penuh kontroversi dalam pemberitaan suratkabar.  Pasalnya,  banyak pihak, tak kecuali jurnalis yang menulis berita tentang masalah terkait, masih memiliki pemahaman keliru mengenai masalah HIV dan AIDS. Sebagai misal, awalnya tidak sedikit pihak beranggapan bahwa yang mungkin tertular HIV hanyalah orang Barat, dan itu merupakan kutukan atas perilaku mereka yang menyimpang.

Ketika masalah HIV dan AIDS menjadi isu kontroversial karena pemahaman keliru, boleh dikata suratkabar – termasuk media massa lain seperti televisi – memiliki andil dalam penyebarluasan pemahaman keliru itu. Pasalnya, tidak sedikit jurnalis yang belum memahami secara benar masalah HIV dan AIDS.  Berita masalah HIV dan AIDS tidak hanya diwarnai kesalahan penulisan bersifat teknis atau penggunaan istilah yang tidak tepat. Bahkan yang lebih parah, jurnalis ikut menguatkan pemahaman keliru yang berkembang di tengah masyarakat melalui berita yang lebih menonjolkan sensasi, mengandung mitos, dan sebagainya. 

Belakangan, pemahaman para jurnalis tentang masalah HIV dan AIDS semakin baik.  Pemahaman yang benar menjadi bekal bagi mereka untuk menulis berita tentang masalah HIV dan AIDS secara benar pula. Dengan kata lain, berita suratkabar semakin baik dalam menyampaikan informasi yang benar tentang masalah HIV dan AIDS. 

Kesalahan penulisan pada berita suratkabar tentang masalah HIV dan AIDS diangkat menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini berangkat dari kenyataan bahwa jumlah orang yang terinfeksi HIV semakin meningkat dari tahun ke tahun.  Ini mengisyaratkan bahwa penyebarluasan informasi yang benar mengenai cara yang harus dilakukan agar tidak terinfeksi HIV merupakan keniscayaan.  Peran media massa – termasuk suratkabar – jelas tidak bisa diabaikan dalam upaya ini.  Maka, kesalahan penulisan jelas harus dihindarkan.


 
 

Salah Ejaan dan Istilah Tak Tepat

Ada dua kategori kesalahan penulisan yang diamati sesuai dengan pokok bahasan dalam tulisan ini.  Pertama, kesalahan bersifat teknis, semisal penulisan huruf besar/kecil, penulisan ejaan, atau penulisan singkatan. Kedua, penggunaan istilah yang tidak tepat.

Kesalahan bersifat teknis diamati karena kesalahan ini, selain terasa mengganggu, bisa menjadi petunjuk untuk menemukan penggunaan istilah yang tidak tepat.  Artinya, ada kecurigaan, kesalahan penulisan bersifat teknis tidak semata-mata menunjukkan ketidak-cermatan, namun ada kemungkinan berhubungan dengan pemahaman yang kurang atas masalah yang ditulis.

Penggunaan istilah yang tidak tepat diamati karena dua alasan. Di satu sisi, penggunaan istilah yang tidak tepat terjadi karena penulis tidak memiliki pemahaman yang baik atas masalah yang ditulis. Di sisi lain, penggunaan istilah yang tidak tepat menyebabkan suatu masalah dipahami secara keliru oleh pembaca, dan pada gilirannya pemahaman yang keliru menyebabkan suatu masalah disikapi secara keliru pula. 

Untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai kesalahan penulisan yang mungkin ditemukan pada berita suratkabar, tentu diperlukan pengamatan menyeluruh dengan langkah yang metodologis dan sistematik. Namun, demi alasan praktis, pengamatan atas berita suratkabar tentang masalah HIV dan AIDS dilakukan dengan  mengakses situs internet yang mengarsip kliping berita masalah tersebut, dengan alamat: aids-ina.org. Cara ini ditempuh mengingat tujuan pengamatan semata-mata adalah untuk menunjukkan beberapa kesalahan penulisan masih ditemukan pada berita masalah HIV dan AIDS.  

Situs aids-ina.org diakses tanggal 9 Desember 2009.  Dan setelah membaca secara cermat berita-berita yang ditampilkan, ditemukan beberapa contoh kesalahan penulisan seperti berikut, disertai catatan penjelasan atas setiap kesalahan:

   

Tertulis

Catatan

- HIV-Aids

- hari AID/HIV sedunia

- hari Aids Sedunia

Kesalahan penulisan bersifat teknis. AIDS, harus disertai huruf S, semua ditulis dengan huruf besar. Bentuk singkatan HIV/AIDS digunakan sebagai istilah yang memiliki suatu pokok pikiran terkait masalah HIV dan AIDS.   HIV selalu ditulis lebih dulu, diikuti AIDS. Sekarang, lebih dianjurkan menulis masalah HIV dan AIDS, sebab HIV dan AIDS adalah dua hal berbeda (lihat Terminology Guidelines dalam unaids.org). Kemudian, yang tepat adalah Hari AIDS Sedunia.

- penularan HIV/AIDS

- tertular HIV/AIDS

- penularan AIDS

- terinfeksi virus HIV/AIDS

- terinfeksi HIV/AIDS

- penyebaran HIV/AIDS

- terkena HIV/AIDS

 

Penggunaan istilah tidak tepat.  HIV dan AIDS merupakan dua hal berbeda.  HIV adalah virus, diwakili huruf V pada HIV.  Sedang AIDS adalah kondisi tubuh seseorang yang mengalami sindrom kehilangan kekebalan tubuh setelah terinfeksi HIV.  Jadi kata-kata:  penularan, tertular, terinfeksi, penyebaran, terkena, tidak tepat disandingkan dengan singkatan HIV/AIDS.  HIV/AIDS juga bukan virus.

- pengidap HIV/AIDS

- penderita HIV/AIDS

Lihat penjelasan di atas.  Kata pengidap dan penderita tidak tepat disandingkan dengan singkatan HIV/AIDS.  Lagi pula, HIV/AIDS bukan virus atau penyakit.  

- positif AIDS

- akan di tes HIV/AIDS

- positif terinfeksi HIV/AIDS

- positif mengidap HIV/AIDS

Lihat penjelasan di atas.   Supaya diketahui secara pasti apakah seseorang tertular HIV,  dilakukan tes darah.  Seseorang yang berdasarkan tes dipastikan terinfeksi HIV, disebut positif terinfeksi HIV atau cukup positif HIV. 

- penyakit HIV/AIDS

- positif terjangkit penyakit

  HIV/AIDS.

- penderita HIV/AIDS

  meninggal

Lihat penjelasan di atas.  Seseorang yang terinfeksi HIV tidak segera mengalami sindrom kehilangan kekebalan tubuh atau yang disebut AIDS.  Tapi, seseorang yang telah mengalami tahap AIDS setelah terinfeksi HIV, pasti ditemukan HIV di tubuhnya. Seseorang yang termasuk salah satu kategori itu disebut ODHA (orang dengan HIV/AIDS) 

 

      Catatan:

Kesalahan penulisan di atas ditemukan pada berita yang dimuat suratkabar berikut: Kompas (09/12/09),  Harian Analisa (9/12/09), Waspada on line (09/12/09), Harian Berita Sore (09/12/09,  Samarinda Pos (08/12/09),  Sriwijaya Post (08/12/09),Duta Masyarakat(08/12/09), Kedaulatan Rakyat (07/09/09).

Apabila dicermati lebih lanjut pada berita yang dapat dibaca pada situs dimaksud, sebenarnya masih banyak jenis kesalahan penulisan yang bisa ditemukan. Salah satu contoh yang patut diketengahkan adalah penulisan judul berita berikut ini:

 

            Hii..! Seorang PNS di Blitar Terinfeksi HIV/AIDS

(Berita Jatim, 07-12-09)

Kalimat judul tersebut (selain mengandung kesalahan penulisan, seharusnya cukup terinfeksi HIV – lihat catatan di atas) bisa dimaknai sebagai ungkapan perasaan ngeri atau jijik si penulis, dan itulah pesan yang sampai ke pembaca. Cara penulisan seperti itu jelas tidak sesuai dengan etika penulisan dalam jurnalisme. Juga tidak sesuai dengan pedoman penulisan berita masalah HIV dan AIDS, yang menyarankan bahwa penulisan masalah HIV dan AIDS seyogyanya disertai empati (lihat buku 11 Langkah Memahami AIDS: Pegangan Wartawan, terbitan LP3Y – KPA Nasional, Edisi Revisi 2008).  

Kembali ke hasil pengamatan di atas.  Seperti diutarakan terdahulu, beberapa kesalahan yang ditampilkan lebih dimaksudkan untuk menunjukkan masih ditemukan kesalahan penulisan terkait masalah HIV dan AIDS pada berita suratkabar. Sehubungan dengan itu, ada hal yang penting dikemukakan.

Kesalahan penulisan, apakah bersifat teknis atau penggunaan istilah yang tidak tepat, tidak hanya ditemukan pada berita suratkabar tertentu atau hanya pada berita yang sama meski diterbitkan suratkabar berbeda. Penggunaan istilah yang tidak tepat ternyata menggejala dalam arti bisa ditemukan berita yang berbeda dan diterbitkan oleh suratkabar yang berbeda pula. Pengamatan terpisah (hasil pengamatan tidak disertakan) dengan membaca berbagai berita masalah HIV dan AIDS yang selama minggu pertama Desember 2009 ini  banyak dimuat berbagai suratkabar sehubungan dengan Hari AIDS Sedunia 1 Desember, banyak kesalahan serupa ditemukan yang memperkuat simpulan tersebut.

Kemudian,  dengan mencermati catatan atas kesalahan penulisan pada hasil pengamatan, bisa dikatakan bahwa hal itu terjadi karena  jurnalis yang bertanggungjawab atas setiap berita yang mengandung kesalahan itu tidak memiliki pemahaman yang memadai mengenai masalah HIV dan AIDS. Perlu dicatat, jurnalis yang dimaksud terdiri atas dua pihak:  reporter sebagai penulis berita dan redaktur sebagai penyunting yang sekaligus memutuskan pemuatan berita tersebut.

Mengenai yang dikemukakan belakangan, ada dua kemungkinan yang menyebabkan hal itu terjadi.  Pertama, berita yang ditulis reporter dimuat tanpa melalui prosedur standar, jadi tidak melalui pemeriksaan dan penyuntingan oleh redaktur. Padahal, reporter tersebut tidak memiliki pengetahuan atau pemahaman yang baik atas masalah HIV dan AIDS, tidak pula menguasai standar penulisan terkait masalah tersebut. Kedua, berita yang ditulis reporter telah diperiksa oleh redaktur. Namun, seperti reporter, redaktur tidak memiliki pengetahuan atau pemahaman yang baik atas masalah HIV dan AIDS, tidak pula menguasai standar penulisan terkait masalah tersebut. 

Kenyataan tersebut memprihatinkan. Bukan saja karena – sebagaimana dipaparkan di atas – penggunaan istilah yang tidak tepat menyebabkan masalah HIV dan AIDS akan  dipahami pembaca secara keliru dengan akibat masalah itu disikapi secara keliru pula. Lebih dari itu, seolah waktu berputar kembali ke masa lalu, saat awal masalah HIV dan AIDS mulai menjadi isu pemberitaan suratkabar.  Saat itu, tak sedikit jurnalis melakukan kesalahan penulisan sewaktu menulis berita tentang masalah terkait. Dan kesalahan penulisan yang dilakukan dulu tak jauh beda dengan hasil pengamatan di atas.

 

Menghindari penularan kesalahan

Setiap jurnalis selalu dituntut agar menghindari kesalahan penulisan saat menulis berita. Tidak menjadi soal apakah kesalahan penulisan itu merupakan kesalahan bersifat teknis, semisal kesalahan penulisan ejaan; atau penggunaan istilah yang tidak tepat.

Kesalahan bersifat teknis perlu dihindari karena kesalahan ini akan dilihat sebagai kecerobohan, atau menunjukkan kelemahan penguasaan cara penulisan yang baik dan benar.

Penggunaan istilah yang tidak tepat merupakan kesalahan yang bersifat fatal. Kesalahan ini mengisyaratkan bahwa penulis tidak memahami masalah dengan baik.  Akibat kesalahan ini, selain menimbulkan pemahaman keliru dalam diri pembaca,  pada gilirannya pemahaman yang keliru menyebabkan suatu masalah disikapi secara keliru pula. 

Namun, mengapa kesalahan penulisan dalam berita harus dihindari tidak berhenti pada alasan tersebut. Harus selalu dipertimbangkan bahwa berita suratkabar memiliki posisi sebagai sumber informasi, menjadi rujukan. Dengan posisi ini, berita suratkabar harus bersih dari kesalahan penulisan. Jika tidak, maka kesalahan penulisan yang terdapat pada berita suratkabar akan menyebar.

Ilustrasi berikut bisa menjadi contoh. Setelah mengetikkan penulisan HIV/AIDS pada tanggal 9-12-2009 sebagai kata kunci untuk meminta agar mesin pencari Google menampilkan situs yang berkaitan dengan topik tersebut,  dalam bilangan detik  muncul seratus tujuh puluh ribu lebih situs berbahasa Indonesia. 

Dari 10 alamat situs yang ditampilkan terdepan, delapan di antaranya tentang lomba penulisan masalah HIV dan AIDS.  Tanpa perlu bersusah-payah membuka kedelapan situs itu satu per satu, segera terbayang bahwa lomba tersebut akan menjaring sekian banyak naskah yang dikirimkan peminat lomba.

Mengingat tema lomba penulisan dimaksud adalah tentang masalah HIV dan AIDS, pertanyaan berikut bisa diajukan:  Apakah istilah terkait masalah HIV dan AIDS,  ditulis dan digunakan secara benar dalam setiap naskah? 

Pertanyaan itu memang hanya bisa dijawab oleh juri lomba yang bertugas membaca dan menilai setiap naskah. Meski demikian, pertanyaan itu tetap relevan diajukan, dilandasi  pemikiran berikut.   

Ada kemungkinan peserta lomba penulisan menggunakan berita media massa sebagai salah satu sumber informasi mengenai masalah HIV dan AIDS. Jika pada berita yang menjadi rujukan istilah terkait masalah HIV dan AIDS ditulis secara keliru, atau digunakan istilah yang tidak tepat, maka bukan mustahil pada naskah yang ditulis peserta lomba penulisan dimaksud akan ditemukan istilah yang ditulis keliru atau penggunaan istilah yang tidak tepat. 

Yang hendak dikemukakan melalui ilustrasi itu adalah bahwa kesalahan penulisan istilah atau penggunaan istilah yang tidak tepat bisa menjadi semacam penyakit menular, dengan berita suratkabar sebagai sumber kesalahan.  Kesalahan penulisan tidak hanya lagi terisolasi pada berita yang dijadikan rujukan itu, melainkan direproduksi dalam berbagai kesempatan, melalui tulisan atau percakapan. Dan celakanya,  pemahaman keliru yang melatarbelakangi kesalahan penulisan, turut menyebar.

Informasi tentang masalah HIV dan AIDS sudah banyak tersedia, baik yang tercetak atau yang bisa diakses melalui internet. Kecuali itu, buku panduan tertulis cara penulisan terkait masalah HIV dan AIDS sudah tersedia. Berbagai pelatihan penulisan masalah HIV dan AIDS juga sudah sering diselenggarakan sejumlah lembaga, baik lembaga pemerintah maupun lembaga swasta. Jadi, kesalahan penulisan dalam berita masalah HIV dan AIDS semestinya tidak perlu terjadi.***

 





Berlangganan


Nama
Email
Permohonan Berlangganan
Berhenti Berlangganan
Cara mendapatkan NEWSLETTER LP3Y Silahkan mengisi form berlangganan diatas!
timREDAKSI

Penanggung Jawab :
Ashadi Siregar

Pemimpin Redaksi :
Slamet Riyadi Sabrawi

Redaksi :
Ismay Prihastuti, Dedi H. Purwadi, Agoes Widhartono, Rondang Pasaribu.

Sekretaris Redaksi :
W. Nurcahyo

Hit Counter

counters

Radio Suara LP3Y

Radio Suara LP3Y

LP3Y Youtube