Meliput Korban Bencana
Hindari Bertanya,”Bagaimana Perasaan Anda?”
Sangat sering pemirsa televisi menyaksikan reporter yang dengan ringannya
menanyakan perasaan kepada korban
selamat atau kerabat dari korban bencana: “Bagaimana perasaan Anda (bapak, ibu,
dan sebagainya)?”. Bagi pewawancara, pertanyaan ini seolah-olah pertanyaan
normal dan biasa-biasa saja, tanpa menimbulkan situasi psikologis yang
memberatkan pihak yang diwawancarai. Pertanyaan seperti ini pun seolah-olah
menjadi pertanyaan yang harus diajukan. Dan yang lebih memprihatinkan, begitu
si terwawancara mulai larut dalam mengungkapkan perasaannya, moda ambilan
gambar dibuat close up. Seakan-akan
ini frame gambar yang sangat berarti
bagi pemberitaan.
Bolehkah wartawan mengajukan pertanyaan seperti itu terhadap korban selamat
atau kerabat korban sebuah bencana? Persoalannya bukanlah pada boleh atau tidak
boleh. Ini menyangkut situasi traumatik pascabencana yang dialami para korban
yang harus dipertimbangkan wartawan dalam mewawancarai mereka.
Mengenai pertanyaan tersebut, Joe Hight dan Cait McMahon dari The Dart Center for Journalism & Trauma
Universitas Washington AS, menegaskan agar para wartawan jangan pernah
menanyakan “Bagaimana perasaan anda?” atau “Dengan kejadian ini bagaiman
perasaan anda ?”
Menurut Hight dan McMahon, kedua pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang
tidak sensitif dan sangat buruk. Ini menempatkan pihak yang diwawancara kembali
ke perasaan dukanya. “Anda hanya akan dapat memperoleh air mata sebagai
jawabannya, Anda lebih sulit mendapatkan jawaban yang sesuai dan penuh makna,”
kata mereka ditujukan kepada wartawan. Dan hal ini merupakan salah satu pertanyaan bagi mereka yang selamat dan
para korban yang secara konsisten mengatakan pertanyaan itu sangat menekan
perasaan mereka dan tidak pantas.
Selain mengindari mengajukan kedua bentuk pertanyaan tersebut, kepada
wartawan peliput bencana Hight dan McMahon memberikan sejumlah catatan penting
yang seyogyanya diperhatikan para wartawan di lapangan. Berikut beberapa
imbauannya.
- Orang yang telah mengalami pengalaman traumatik yang mendalam atau telah
kehilangan seseorang yang dekat dengannya oleh karena keadaan-keadaan yang
memilukan secara tiba-tiba, mungkin akan mengalami goncangan jiwa dan tidak
mampu lagi memberikan ijin tanpa paksaan (istilah yang asal mulanya digunakan
dalam konteks kedokteran medis asli mencakup suka rela, kapasitas dan
pengetahuan).
- Bersikaplah santai dengan mereka – mereka mempunyai hak untuk menolak
untuk diwawancarai, untuk diambil fotonya atau difilmkan. Laksanakan prinsip
untuk sekurangkurangnya tidak menimbulkan kerugian lebih jauh.
- Meskipun anda dikejar oleh deadline
atau ketidaksabaran ruang berita untuk mendapatkan artikel atau foto, cobalah
untuk mengadakan pendekatan sebaik dan sefleksibel mungkin. Perlakukan
orang-orang ini sebagaimana yang anda ingin orang lain melakukannya ke anda
sendiri. Jangan mengancam orang lain untuk bekerja sama dengan sekedar
memaksakan kehendak bahwa wawancara akan membantu orang lain. Berikan
kesempatan kepada mereka untuk berbicara dengan anda – tetapi biarkan mereka
memutuskan apakah mau diwawancarai atau tidak.
- Yang terpenting, bersikaplah akurat dan tidak berpura-pura menunjukkan
simpati. Apapun yang dikatakan orang itu, simpati tidak dapat ditutup-tutupi. Bersikaplah
terbuka mengenai siapa anda dan apa yang anda ingin lakukan. Sampaikan secara
rasa duka cita yang tulus sesegera mungkin dengan penuh perhatian dan dukungan.
Anda boleh mengatakan, misalnya, “Saya sangat menyesal sekali dengan kejadian
yang menimpa anda”.
- Jangan memaksakan, membujuk, mengelabui atau menawarkan imbalan apapun
untuk mendapatkan kerjasamanya. Mintalah orang dengan sopan apakah mereka mau
diwawancarai atau di foto. Ingat bahwa ketika anda pertama kali berbicara
dengan seorang korban atau seorang yang selamat, mereka mungkin bingung atau
perhatiannya ke hal lain, dan kemudian, mereka juga tidak dapat menginat apa
yang telah anda minta atau yang telah mereka katakan. Khususnya jangan
memberikan beban tambahan dengan menegosiasikan liputan “khusus” kepada
keluarga yang sedang berduka.
- Ingat bahwa para korban, mereka yang selamat, keluarga serta rekan-rekan
tengah berjuang untuk mendapatkan kembali kendali atas kehidupan mereka
menyusul pengalaman-pengalaman yang mengerikan. Biarkan mereka mengusulkan,
kapan, di mana dan bagaimana mereka diwawancarai atau difoto/difilmkan.
Sertakan mereka dalam setiap keputusan yang dapat anda lakukan – misalnya,
bacakan kembali ucapan-ucapan mereka yang anda telah kutip atau putar ulang
rekaman kasar; beri kesempatan kepada mereka untuk menyarankan foto-foto mana
dari anggota keluarga yang telah meninggal atau luka yang harus ditayangkan.
- Biarkan mereka yang diwawancarai dan masih rentan mengatakan kepada anda
kapan mereka ingin istirahat, apakah mereka menginginkan anda untuk menutup
catatan anda atau mematikan peralatan rekaman anda. Periksa apakah sudah OK
untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Kemudian dengarkan!
Kesalahan terburuk yang dapat dilakukan seorang wartawan adalah berbicara
terlalu banyak.
- Apabila seseorang menangis selama wawancara, jangan panik atau menganggap
itu kesalahan anda. Berikan mereka kesempatan untuk menyapu air matanya, dan
untuk berjaga-jaga, milikilah persediaan kertas tisu bersih. Jangan takut untuk
menawarkan kepadanya – dengan sikap hati-hati, dengan penuh rasa menghargai,
dan tanpa menyorongnya ke muka mereka. Air mata merupakan respon yang alami
terhadap peristiwa ngeri. Menangis kadang-kadang dapat menunjukkan bahwa orang
itu merasa aman berbicara dengan anda. Seringkali, mereka akan lebih siap untuk
melanjutkan wawancara setelah mereka menenangkan diri.
- Hati-hati saat anda ingin mengakhiri wawancara secara sepihak karena anda
merasa terganggu, atau anda salah menganggap subyek yang anda wawancarai ingin
menghentikannya, hal ini hanya akan semakin membuat mereka tersinggung. Anda
mungkin merasa canggung - tetapi selalu ingat bahwa dalam situasi seperti ini
INI BUKAN MENGENAI DIRI ANDA.
- Bahkan meskipun ada sejumlah orang media/berita akan mengejar berita
tersebut dan sudut yang lain dan belum pernah diliput sebelumnya, jangan
menyerah dengan mentalitas “rombongan”, khususnya ketika banyak media meliput
perkembangan selanjutnya, peristiwaperistiwa, kedatangan dsb. Kumpulkan
sumberdaya apabila memungkinkan untuk membatasi permintaan pada individu dan
dan masyarakat. Mengutip Stephen Sackur ( BBC News), “Salah satu tip ketika
anda sedang berbicara dengan orang yang rentan terhadap apa yang terjadi. Meski
anda sedang dikejar deadline yang ketat, jangan pernah lupa apa yang anda minta
dari orang itu untuk diceritakan. Orang mungkin bingung, bersikap memusuhi, dan
tidak dapat diandalkan. Jangan tergesa-gesa atau tidak sabar untuk mendapatkan
sesuatu di luar fokus anda. Seorang rekan TV yang sedang meliput gempa bumi di
Turki bersama-sama saya bergegas, melihat pertama kali bangunan-bangunan
runtuh, mengambil gambar dengan kamera dan mewawancarai para anggota keluarga.
Hanya ketika dia ingin pergi, ada perasaan canggung menyergap. Dia sangat malu.
Anda bisa tergoda untuk adanya keharusan menyenangkan hati redaktur anda.
Tunjukkan sedikit rasa kemanusiaan.”
- Hargai juga bahwa mereka mungkin menginginkan ada seseorang bersamanya,
atau untuk menunjuk seorang anggota keluarga atau juru bicara dari luar. Mereka
dapat dibombardir dengan permintaan-permintaan dari media dan membutuhkan
bantuan resmi dalam menangani masalah tersebut, atau membatasi,
permintaan-permintaan itu.
- Untuk para keluarga korban atau mereka yang selamat, kerugian, duka dan
masalah yang mereka hadapi adalah terfokus secara intensif dan pribadi. Masalah
ini juga akan mempunyai kerangka waktu sendiri. Anda dapat memperoleh cerita
atau foto yang lebih baik jika anda dapat menunggu sebentar bersama mereka yang
terkena dampak langsung, dan fokuskan pada peliputan langsung atas mereka yang
tidak mengalami langsung, misalnya para pekerja penyelamat, para pejabat, tokoh
agama dsb.
- Bilamana mungkin, hindari menjadi orang yang meneruskan berita kematian
seseorang atau keluarga. Ada otoritas yang tepat untuk melakukannya. Para
kerabat mempunyai hak untuk menerima berita tersebut secara pribadi. Jika anda
dimintai informasi tambahan yang mereka mungkin belum miliki, pertimbangkan
respon anda dengan sangat hati-hati. Cobalah untuk membayangkan apa yang akan
anda rasakan apabila anda berada dalam situasi seperti itu.
- Ingatlah orang-orang yang anda ajak bicara dalam keadaan ini jarang
sekali berhubungan dengan media. Cobalah untuk menjelaskan proses media dan
bagaimana berita/ foto/footage anda
mungkin dapat digunakan. Juga jelaskan bahwa berita ini akan disusun ulang
sebelum di tayangkan/diterbitkan, atau setelahnya, atau tidak digunakan sama
sekali. Jujurlah apabila anda mengetahui ada bagian berita yang mungkin
disiarkan lebih dari satu kali. [Banyak dari mereka akan mengambil langkah
untuk memastikan anggota keluarga yang rentan seperti anak-anak atau orang tua
yang harus diberitahu, atau jangan sampai menyaksikan atau mendengar peliputan
berita tersebut].
- Upayakan mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada anda ketika anda
berada di sana, dan untuk menelpon anda apabila mereka mempunyai pertanyaan
kemudian. Jika anda mendapatkan penolakan, tinggalkan kartu nama yang dapat
dihubungi dan katakan kepada mereka anda sangat mengharapkan telepon mereka
apabila mereka berubah pikiran nanti. Orang seringkali melakukan hal itu. (sumber: http://www.dartcentre.org)*
|
|



