-Newsletter
              EDISI 14/Pebruari 2010


Sumber Info
E-mail PDF Print Share on Facebook

Meliput Korban Bencana

Hindari Bertanya,”Bagaimana Perasaan Anda?”



Sangat sering pemirsa televisi menyaksikan reporter yang dengan ringannya menanyakan perasaan  kepada korban selamat atau kerabat dari korban bencana: “Bagaimana perasaan Anda (bapak, ibu, dan sebagainya)?”. Bagi pewawancara, pertanyaan ini seolah-olah pertanyaan normal dan biasa-biasa saja, tanpa menimbulkan situasi psikologis yang memberatkan pihak yang diwawancarai. Pertanyaan seperti ini pun seolah-olah menjadi pertanyaan yang harus diajukan. Dan yang lebih memprihatinkan, begitu si terwawancara mulai larut dalam mengungkapkan perasaannya, moda ambilan gambar dibuat close up. Seakan-akan ini frame gambar yang sangat berarti bagi pemberitaan.

Bolehkah wartawan mengajukan pertanyaan seperti itu terhadap korban selamat atau kerabat korban sebuah bencana? Persoalannya bukanlah pada boleh atau tidak boleh. Ini menyangkut situasi traumatik pascabencana yang dialami para korban yang harus dipertimbangkan wartawan dalam mewawancarai mereka.

Mengenai pertanyaan tersebut, Joe Hight dan Cait McMahon dari The Dart Center for Journalism & Trauma Universitas Washington AS, menegaskan agar para wartawan jangan pernah menanyakan “Bagaimana perasaan anda?” atau “Dengan kejadian ini bagaiman perasaan anda ?”

Menurut Hight dan McMahon, kedua pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang tidak sensitif dan sangat buruk. Ini menempatkan pihak yang diwawancara kembali ke perasaan dukanya. “Anda hanya akan dapat memperoleh air mata sebagai jawabannya, Anda lebih sulit mendapatkan jawaban yang sesuai dan penuh makna,” kata mereka ditujukan kepada wartawan. Dan hal ini merupakan salah satu pertanyaan bagi mereka yang selamat dan para korban yang secara konsisten mengatakan pertanyaan itu sangat menekan perasaan mereka dan tidak pantas.

Selain mengindari mengajukan kedua bentuk pertanyaan tersebut, kepada wartawan peliput bencana Hight dan McMahon memberikan sejumlah catatan penting yang seyogyanya diperhatikan para wartawan di lapangan. Berikut beberapa imbauannya.

- Orang yang telah mengalami pengalaman traumatik yang mendalam atau telah kehilangan seseorang yang dekat dengannya oleh karena keadaan-keadaan yang memilukan secara tiba-tiba, mungkin akan mengalami goncangan jiwa dan tidak mampu lagi memberikan ijin tanpa paksaan (istilah yang asal mulanya digunakan dalam konteks kedokteran medis asli mencakup suka rela, kapasitas dan pengetahuan).

- Bersikaplah santai dengan mereka – mereka mempunyai hak untuk menolak untuk diwawancarai, untuk diambil fotonya atau difilmkan. Laksanakan prinsip untuk sekurangkurangnya tidak menimbulkan kerugian lebih jauh.

- Meskipun anda dikejar oleh deadline atau ketidaksabaran ruang berita untuk mendapatkan artikel atau foto, cobalah untuk mengadakan pendekatan sebaik dan sefleksibel mungkin. Perlakukan orang-orang ini sebagaimana yang anda ingin orang lain melakukannya ke anda sendiri. Jangan mengancam orang lain untuk bekerja sama dengan sekedar memaksakan kehendak bahwa wawancara akan membantu orang lain. Berikan kesempatan kepada mereka untuk berbicara dengan anda – tetapi biarkan mereka memutuskan apakah mau diwawancarai atau tidak.

- Yang terpenting, bersikaplah akurat dan tidak berpura-pura menunjukkan simpati. Apapun yang dikatakan orang itu, simpati tidak dapat ditutup-tutupi. Bersikaplah terbuka mengenai siapa anda dan apa yang anda ingin lakukan. Sampaikan secara rasa duka cita yang tulus sesegera mungkin dengan penuh perhatian dan dukungan. Anda boleh mengatakan, misalnya, “Saya sangat menyesal sekali dengan kejadian yang menimpa anda”.

- Jangan memaksakan, membujuk, mengelabui atau menawarkan imbalan apapun untuk mendapatkan kerjasamanya. Mintalah orang dengan sopan apakah mereka mau diwawancarai atau di foto. Ingat bahwa ketika anda pertama kali berbicara dengan seorang korban atau seorang yang selamat, mereka mungkin bingung atau perhatiannya ke hal lain, dan kemudian, mereka juga tidak dapat menginat apa yang telah anda minta atau yang telah mereka katakan. Khususnya jangan memberikan beban tambahan dengan menegosiasikan liputan “khusus” kepada keluarga yang sedang berduka.

- Ingat bahwa para korban, mereka yang selamat, keluarga serta rekan-rekan tengah berjuang untuk mendapatkan kembali kendali atas kehidupan mereka menyusul pengalaman-pengalaman yang mengerikan. Biarkan mereka mengusulkan, kapan, di mana dan bagaimana mereka diwawancarai atau difoto/difilmkan. Sertakan mereka dalam setiap keputusan yang dapat anda lakukan – misalnya, bacakan kembali ucapan-ucapan mereka yang anda telah kutip atau putar ulang rekaman kasar; beri kesempatan kepada mereka untuk menyarankan foto-foto mana dari anggota keluarga yang telah meninggal atau luka yang harus ditayangkan.

- Biarkan mereka yang diwawancarai dan masih rentan mengatakan kepada anda kapan mereka ingin istirahat, apakah mereka menginginkan anda untuk menutup catatan anda atau mematikan peralatan rekaman anda. Periksa apakah sudah OK untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Kemudian dengarkan! Kesalahan terburuk yang dapat dilakukan seorang wartawan adalah berbicara terlalu banyak.

- Apabila seseorang menangis selama wawancara, jangan panik atau menganggap itu kesalahan anda. Berikan mereka kesempatan untuk menyapu air matanya, dan untuk berjaga-jaga, milikilah persediaan kertas tisu bersih. Jangan takut untuk menawarkan kepadanya – dengan sikap hati-hati, dengan penuh rasa menghargai, dan tanpa menyorongnya ke muka mereka. Air mata merupakan respon yang alami terhadap peristiwa ngeri. Menangis kadang-kadang dapat menunjukkan bahwa orang itu merasa aman berbicara dengan anda. Seringkali, mereka akan lebih siap untuk melanjutkan wawancara setelah mereka menenangkan diri.

- Hati-hati saat anda ingin mengakhiri wawancara secara sepihak karena anda merasa terganggu, atau anda salah menganggap subyek yang anda wawancarai ingin menghentikannya, hal ini hanya akan semakin membuat mereka tersinggung. Anda mungkin merasa canggung - tetapi selalu ingat bahwa dalam situasi seperti ini INI BUKAN MENGENAI DIRI ANDA.

- Bahkan meskipun ada sejumlah orang media/berita akan mengejar berita tersebut dan sudut yang lain dan belum pernah diliput sebelumnya, jangan menyerah dengan mentalitas “rombongan”, khususnya ketika banyak media meliput perkembangan selanjutnya, peristiwaperistiwa, kedatangan dsb. Kumpulkan sumberdaya apabila memungkinkan untuk membatasi permintaan pada individu dan dan masyarakat. Mengutip Stephen Sackur ( BBC News), “Salah satu tip ketika anda sedang berbicara dengan orang yang rentan terhadap apa yang terjadi. Meski anda sedang dikejar deadline yang ketat, jangan pernah lupa apa yang anda minta dari orang itu untuk diceritakan. Orang mungkin bingung, bersikap memusuhi, dan tidak dapat diandalkan. Jangan tergesa-gesa atau tidak sabar untuk mendapatkan sesuatu di luar fokus anda. Seorang rekan TV yang sedang meliput gempa bumi di Turki bersama-sama saya bergegas, melihat pertama kali bangunan-bangunan runtuh, mengambil gambar dengan kamera dan mewawancarai para anggota keluarga. Hanya ketika dia ingin pergi, ada perasaan canggung menyergap. Dia sangat malu. Anda bisa tergoda untuk adanya keharusan menyenangkan hati redaktur anda. Tunjukkan sedikit rasa kemanusiaan.”

- Hargai juga bahwa mereka mungkin menginginkan ada seseorang bersamanya, atau untuk menunjuk seorang anggota keluarga atau juru bicara dari luar. Mereka dapat dibombardir dengan permintaan-permintaan dari media dan membutuhkan bantuan resmi dalam menangani masalah tersebut, atau membatasi, permintaan-permintaan itu.

- Untuk para keluarga korban atau mereka yang selamat, kerugian, duka dan masalah yang mereka hadapi adalah terfokus secara intensif dan pribadi. Masalah ini juga akan mempunyai kerangka waktu sendiri. Anda dapat memperoleh cerita atau foto yang lebih baik jika anda dapat menunggu sebentar bersama mereka yang terkena dampak langsung, dan fokuskan pada peliputan langsung atas mereka yang tidak mengalami langsung, misalnya para pekerja penyelamat, para pejabat, tokoh agama dsb.

- Bilamana mungkin, hindari menjadi orang yang meneruskan berita kematian seseorang atau keluarga. Ada otoritas yang tepat untuk melakukannya. Para kerabat mempunyai hak untuk menerima berita tersebut secara pribadi. Jika anda dimintai informasi tambahan yang mereka mungkin belum miliki, pertimbangkan respon anda dengan sangat hati-hati. Cobalah untuk membayangkan apa yang akan anda rasakan apabila anda berada dalam situasi seperti itu.

- Ingatlah orang-orang yang anda ajak bicara dalam keadaan ini jarang sekali berhubungan dengan media. Cobalah untuk menjelaskan proses media dan bagaimana berita/ foto/footage anda mungkin dapat digunakan. Juga jelaskan bahwa berita ini akan disusun ulang sebelum di tayangkan/diterbitkan, atau setelahnya, atau tidak digunakan sama sekali. Jujurlah apabila anda mengetahui ada bagian berita yang mungkin disiarkan lebih dari satu kali. [Banyak dari mereka akan mengambil langkah untuk memastikan anggota keluarga yang rentan seperti anak-anak atau orang tua yang harus diberitahu, atau jangan sampai menyaksikan atau mendengar peliputan berita tersebut].

- Upayakan mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada anda ketika anda berada di sana, dan untuk menelpon anda apabila mereka mempunyai pertanyaan kemudian. Jika anda mendapatkan penolakan, tinggalkan kartu nama yang dapat dihubungi dan katakan kepada mereka anda sangat mengharapkan telepon mereka apabila mereka berubah pikiran nanti. Orang seringkali melakukan hal itu. (sumber: http://www.dartcentre.org)*

 




Berlangganan


Nama
Email
Permohonan Berlangganan
Berhenti Berlangganan
Cara mendapatkan NEWSLETTER LP3Y Silahkan mengisi form berlangganan diatas!
timREDAKSI

Penanggung Jawab :
Ashadi Siregar

Pemimpin Redaksi :
Slamet Riyadi Sabrawi

Redaksi :
Ismay Prihastuti, Dedi H. Purwadi, Agoes Widhartono, Rondang Pasaribu.

Sekretaris Redaksi :
W. Nurcahyo

Hit Counter

counters

Radio Suara LP3Y

Radio Suara LP3Y

LP3Y Youtube