Juraganisme Mengancam Jurnalisme
Sekitar sepuluh tahun lalu, pada awal era reformasi, banyak pemilik modal mengucurkan uang untuk menerbitkan suratkabar atau institusi media lainnya. Sejak SIUPP dihapuskan, kehadiran para pendatang baru di dunia media tak terbendung. Kecenderungan baru itu melahirkan harapan, dengan semakin banyak media hadir di tengah masyarakat, akan terjadi persaingan dalam hal kualitas maupun keragaman informasi yang bisa diperoleh khalayak. Tapi kenyataan menunjukkan tidak demikian yang terjadi. Persaingan kualitas tidak terjadi secara signifikan dengan kahadiran media baru. Juga tak sedikit media baru itu kemudian menghilang dari peredaran. Meski demikian, tetap tersisa pertanyaan, untuk
apa para pemilik uang itu terjun ke bisnis media? Apakah semata-mata tergiur oleh potensi media untuk menjadi mesin pencetak uang, atau sekadar untuk
mencari pengaruh?
Untuk konteks Indonesia, belum ada suatu hasil
kajian yang bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi, di Prancis, Serge Dassault, seorang konglomerat, terus terang
mengakui bahwa dia membeli Le Figaro,
salah satu suratkabar berpengaruh di negeri itu, adalah karena dia ingin ada
suratkabar yang bisa menyampaikan pandangannya (mediachannel.org).
Menilik posisi Serge Dassault sebagai pemilik
suratkabar, arti bisa menyampaikan padangan melalui suratkabar miliknya bisa
ditafsirkan secara luas. Dalam arti
harfiah, cara paling mudah menyampaikan padangan itu adalah melalui artikel
yang ditulis sendiri oleh Serge, lalu dimuat Le Figaro. Atau sebagai bos
dia diwawancarai secara khusus. Tapi, bagaimana kalau yang dimaksud
menyampaikan pandangan itu termasuk apa yang perlu diliput dan diberitakan,
atau sebaliknya apa yang tidak perlu diliput dan diberitakan?
Pengakuan terus terang Serge Dassault adalah contoh tentang apa yang sedang
dicemaskan berbagai kalangan, termasuk para insan pers di negeri ini, yaitu juraganisme (Kompas, 11 Februari 2010). Juraganisme dipandang merupakan
ancaman terbesar jurnalisme di Indonesia. Sebab, pengertian sederhana juraganisme adalah apa yang disukai pemilik
bisa mempengaruhi apa yang diliput dan
diberitakan atau tidak. Berita bisa
menjadi bias atau bahkan dibuang apabila hal itu dianggap menyerang pemasang
iklan atau bahkan pemilik media.
Ada contoh lain yang patut disimak mengenai bagaimana juraganisme diterapkan di dunia pers. Menurut laporan Columbia Journalism Review, Silvio Berlusconi, PM Italia, memanfaatkan betul posisinya sebagai juragan media, tidak hanya untuk membantunya memenangkan kursi perdana menteri, tetapi juga untuk membungkam setiap kritik atas kebijakan pemerintahannya. Bagaimanapun, kepentingan bisnis, kepentingan
politik, serta kepentingan memelihara hubungan baik dengan penguasa atau relasi
bisnis, bisa menyebabkan juragan media tergoda untuk menentukan apa yang
diliput dan diberitakan melalui institusi media miliknya. Melalui kekuasaan sebagai juragan media,
pemilik bisa memengaruhi agar berita menjadi bias, tak lagi obyektif, atau sama
sekali tidak dimuat, apabila berita itu dinilai akan merusak citra perusahaan
pemasang iklan, mengkritik penguasa yang menjadi konco sang juragan.
Sebaliknya, karena mengutamakan perolehan
keuntungan finansial alih-alih kepentingan publik, juragan media bisa
mengarahkan pemberitaan yang mengedepankan tren gaya hidup mutakhir yang
sengaja diciptakan dan ditiup-tiupkan para industrialis yang mendorong
tumbuhnya sikap konsumtif. Pada
akhirnya, pemberitaan semacam itu lebih merupakan promosi terselubung kepentingan
bisnis yang akan mendatangkan iklan. Dengan kata lain, berkat peran juragan media, kekuatan pasar
berpengaruh besar terhadap keberadaan media.
Dalam konteks itu, tak banyak pemilik media
seperti Katharina Graham, pemilik Washington Post, yang tak mau
mencampuri urusan redaksi. Ketika laporan kasus Watergate akan dimuat,
Ben Bradlee, editor Washington Post, menelepon Katharina Graham, dan
memberitahu laporan yang akan dimuat dengan segala konsekuensinya. Bradlee tidak minta ijin untuk memuat
laporan itu. Ben tahu, begitu pula sang bos, bahwa sebagai pemilik Katharina Graham bisa
saja membatalkan pemuatan laporan itu. Itu tidak dilakukan. Bahkan
Katharina Graham sama sekali tidak meminta membaca laporan itu lebih dulu
sebelum dimuat. (New York Magazine, 1973)
Kepemimpinan Katharina Graham yang sama sekali tidak mengintervensi independensi maupun profesionalisme para jurnalisnya dalam mengungkap kasus Pentagon Papers dan kasus Watergate, menyebabkan dia dianugerahi the Zenger Award for Freedom of the Press and the People’s Right to Know tahun 1973 (Washingtonpost.com). Seperti dicemaskan berbagai pihak, barangkali juraganisme mulai menunjukkan tanda-tanda mencemaskan di negeri ini justru setelah berdasarkan undang-undang tak satu pun kekuasaan boleh mencampuri urusan pers. Terlebih jika industri media semakin berkembang menjadi konglomerasi, hanya dikuasai beberapa pemilik modal besar. Campur tangan yang menggerogoti independensi dan profesionalisme para jurnalis, malah bekerja di dalam institusi media sendiri, melalui hirarki manajemen. Kompetisi yang selama ini dianggap dapat menjadi aspek yang sehat bagi pemberitaan dan media, serta mendorong peningkatan kualitas, akan mengalami kemandekan manakala juraganisme mereduksi hal tersebut menjadi persaingan mencari keuntungan. Media tidak lagi bersaing untuk laporan berkualitas dan beragam, melainkan menjaring khalayak lewat unsur sensasi yang ujung-ujungnya mendatangkan iklan. Semua kecenderungan buruk yang timbul sebagai dampak juraganisme jelas tak baik bagi media sebagai institusi sosial, tak baik bagi jurnalis maupun jurnalisme itu sendiri, dan terutama tak baik bagi demokrasi. Maka, menghadapi ancaman juraganisme, barangkali jurnalis perlu selalu memikir ulang hakekat keberadaan profesi jurnalis, selalu mempertanyakan untuk apa serta untuk siapa jurnalisme harus dipraktekkan secara profesional dan independen.(ron) |
|



