-Newsletter
              EDISI 17/Mei 2010


Analisis Info
E-mail PDF Print Share on Facebook

Pemilukada di DIY 2010

Sukar Mengenali Calon Lewat Suratkabar



Pemilukada di tiga kabupaten Provinsi DI Yogyakarta, yaitu Bantul, Gunung Kidul, dan Sleman, yang diselenggarakan serempak 23 Mei 2010, telah usai. 

Meski ada pengamat yang menyatakan pemilukada di ketiga kabupaten tersebut kurang greget (Lihat tulisan Bambang Purwoko, Pemilukada Tanpa Greget, Kedaulatan Rakyat, 21 Mei 2010, hal. 1), toh para pemilih yang datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) telah menjatuhkan pilihan. 
 
Beragam alasan pemilih memberikan suara kepada calon bupati/calon wakil bupati (cabup/cawabup) tertentu.  Apapun alasan pemilih, paling tidak mereka telah menggunakan hak politiknya secara aktif dalam proses demokrasi.
 
Secara ideal, pemilih  seyogyanya menjatuhkan pilihan secara cerdas dan rasional.  Untuk itu, pemilih memerlukan informasi lengkap mengenai sosok setiap calon, sehingga tidak semata-mata terpikat oleh nama tenar,  partai serta kelompok masyarakat yang mendukung calon tersebut, visi dan misi serta program yang akan dijalankan, dan lain-lain. 
 
Salah satu sumber informasi yang mestinya bisa diandalkan adalah suratkabar. Suratkabar diharapkan bisa menyajikan informasi yang lengkap dan obyektif tentang sosok setiap calon. Di situlah peran suratkabar sebagai institusi pers yang seyogyanya netral, diyakini mampu mendorong proses demokratisasi kehidupan politik (lihat, Menuju Masyarakat Kewargaan, LP3Y, 1999). 
 
Sehubungan dengan itu, muncul pertanyaan:  Apakah suratkabar menjadi sumber informasi terandalkan bagi para pemilih untuk lebih mengenal sosok calon kepala daerah?

Kepedulian Instan

Sosok setiap calon penting diketahui setiap pemilih sebagai dasar pertimbangan untuk menjatuhkan pilihan, antara lain apakah calon mempunyai kemampuan, jujur, adil, berpihak kepada rakyat, tidak korupsi, dan sebagainya. Pengetahuan semacam ini, yang bisa dibaca melalui rekam jejak (track record) setiap calon, menjadi informasi pembanding untuk mengkritisi isi kampanye setiap calon biasanya hanya berisi hal-hal yang baik, janji yang enak didengar, angin surga.

Ambil sebagai misal, semasa kampanye, ada calon yang berjanji akan lebih memerhatikan kaum difabel, atau meningkatkan mutu pelayanan kesehatan terutama bagi rakyat kecil, dan sebagainya. Bagi pemilih kritis, janji seperti itu jelas tidak akan dipercaya begitu saja.  Sederet keraguan akan terbersit di benak masing-masing, antara lain: Apa jaminan bahwa janji itu akan dipenuhi? Mengapa yang bersangkutan peduli terhadap kaum difabel, peduli atas mutu pelayanan kesehatan bagi rakyat kecil? Apakah kepedulian itu sudah ada sejak lama, yang bisa dibaca pada rekam jejak (track record)?  Jangan-jangan kepedulian itu muncul secara instan, hanya demi kepentingan meraih suara. Atau terpaksa peduli karena digiring menandatangani kontrak politik, suatu kecenderungan yang marak belakangan ini.
 
Dengan kata lain, adanya keraguan atas kepedulian instan para calon menyebabkan pemilih memerlukan informasi lengkap tentang sosok setiap calon.  Informasi yang lebih lengkap tentang sosok setiap calon bisa menjadi dasar untuk menilai secara kritis apakah terdapat kesesuaian antara perbuatan dan janji-janji yang diumbar selama masa kampanye.
 
Dalam konteks itu, maka pernyataan Suryatiningsih Budi Lestari, anggota KPUD Sleman, yang dilontarkan seusai sosialisasi pemilukada terhadap kaum difabel, menarik disimak.  Menurut Suryatiningsih, banyak kaum difabel belum mengenal secara baik cabup/cawabup dalam pemilukada di Sleman (Kedaulatan Rakyat, 11 Mei 2010, hal. 4).
 
Pernyataan tersebut kiranya tidak hanya berlaku bagi kaum difabel. Boleh jadi banyak pemilih lain yang bukan difabel juga mengalami hal yang sama, yakni belum mengenal secara baik sosok cabup/cawabup yang menjadi kontestan dalam pemilukada. Ini sesuai dengan pendapat Bambang Purwoko yang disampaikan dalam tulisannya yang telah disebut di atas. 
 
Dikemukakan, salah satu penyebab pemilukada kurang greget adalah karena banyak cabup/cawabup baru didengar namanya setelah resmi menjadi calon. Wajah para calon juga cuma dikenal melalui baliho atau poster.  Mereka tiba-tiba saja muncul menjadi cabup/cawabup.
 
Pemilih yang belum mengenal sosok cabup/cawabup jelas bisa ditemukan di tiga kabupaten – Bantul, Gunung Kidul, Sleman – di mana Pemilukada 2010 diselenggarakan.  Mereka adalah pemilih bebas dalam pengertian tidak terikat pada partai, ideologi, atau kelompok pendukung cabup/cawabup tertentu. Mereka inilah yang memerlukan informasi dimaksud. 
 
Sudah tentu para pemilih tidak harus mencari sendiri informasi tersebut.  Tanpa harus menjadi corong cabup/cawabup tertentu, suratkabar sebenarnya bisa menyajikan informasi yang lengkap dan obyektif tentang sosok setiap calon. 

 

Sosok dalam Berita

Untuk menjawab pertanyaan sebagaimana dikemukakan di atas, dilakukan pengamatan terhadap pemberitaan Harian Kedaulatan Rakyat, terbitan tanggal 1 – 23 Mei 2010. Ada beberapa alasan mengapa untuk keperluan tulisan ini hanya Harian Kedaulatan Rakyat yang diamati. 
 
Pertama, hasil pengamatan yang dijadikan titik tolak penyusunan tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membandingkan perbedaan antar suratkabar dalam memberitakan pemilukada di ketiga kabupaten yang telah disebutkan, yaitu Bantul, Gunung Kidul, dan Sleman. Seperti diketahui, ada tiga suratkabar terbitan Yogyakarta yang beredar di Provinsi DI Yogyakarta, termasuk Kedaulatan Rakyat. Bahwa hanya Harian Kedaulatan Rakyat yang diamati, lebih dilandasi pertimbangan subyektif untuk menemukan kasus yang menjadi dasar pengembangan gagasan yang disampaikan melalui tulisan ini.
 
Kedua, pemilukada di tiga kabupaten tersebut diselenggarakan saat bersamaan, yaitu tanggal 23 Mei 2010. Masa kampanye terbuka berlangsung 6 – 19 Mei 2010. Maka, rentang waktu tanggal 1 – 23 Mei 2010 kiranya memberi keleluasaan yang memadai bagi suratkabar seperti Kedaulatan Rakyat untuk menyajikan laporan tentang sosok cabup/cawabup di ketiga daerah pemilukada.
 
Ketiga, sebelum masa kampanye terbuka dimulai, Kedaulatan Rakyat sudah menyediakan satu halaman khusus (halaman 4) bertajuk Pemilukada 2010, memuat berita tentang berbagai hal menyangkut pemilukada di ketiga kabupaten dimaksud.  Jadi, pada satu halaman dimaksud, sekaligus bisa dibaca berita tentang pemilukada di Sleman, Bantul, dan Gunung Kidul.
 
Keempat, halaman khusus Pemilukada 2010 pada Harian Kedaulatan Rakyat memuat berita dengan topik beragam tentang pemilukada di tiga kabupaten, semisal kegiatan KPUD, diskusi yang diikuti berbagai kalangan terkait pemulukada, kegiatan maupun isi kampanye cabup/cawabup, dan lain-lain. Karena itu, mengingat di Bantul tiga pasangan, di Gunung Kidul empat pasangan, sedang di Kabupaten Sleman ada tujuh pasangan cabup/cawabup, menarik diamati apakah halaman khusus Pemilukada 2010 suratkabar ini memberi ruang yang cukup untuk memperkenalkan sosok setiap cabup/cawabup di setiap kabupaten.
 
Adapun yang diamati adalah berita terkait setiap cabup/cawabup yang menjadi kontestan di tiga kabupaten, yang dibedakan berdasarkan kategori isi sebagai berikut:

  1. Berita yang memuat informasi mengenai sosok setiap calon, menyangkut latar belakang pendidikan, karir, kekayaan, kemampuan profesional, reputasi, karakter,  dan lain-lain. 
  2. Berita yang memuat informasi tentang visi, misi, program setiap calon.
  3. Berita yang menginformasikan partai atau kelompok masyarakat pendukung.

 

Informasi Minim

Berdasarkan pengamatan, halaman khusus Pemilukada 2010 Harian Kedaulatan Rakyat terbitan 1 – 23 Mei 2010  memuat 49 item berita  yang termasuk ketiga kategori di atas, dengan rincian sebagai berikut:

Kabupaten daerah pemilihan cabup/cawabup

Kategori isi berita

Sosok

Visi, Misi, Program

Partai dan Kelompok Pendukung

Sleman

2

21

2

Gunung Kidul

1

11

1

Bantul

0

8

3

         

Mengacu hasil pengamatan di atas, ada dua hal yang perlu dicatat.  Pertama, berita mengenai sosok setiap cabup/cawabup yang menjadi kontestan di setiap kabupaten sangat minim. Tiga berita tentang sosok cabup/cawabup di dua kabupaten hanya tentang kekayaan cabup/cawabup di kabupaten tersebut.

Kedua, berita tentang visi, misi, dan program yang disampaikan para cabup/cawabup memperoleh porsi terbanyak.  Artinya, isi berita yang termasuk kategori ini pada dasarnya hanya meneruskan apa yang disampaikan para calon kepada pemilih melalui kegiatan kampanye. 
 
Dengan kata lain, jika diharapkan pada halaman khusus Pemilukada 2010 Harian Kedaulatan Rakyat terbitan tanggal 1 – 23 Mei 2010,  akan ditemukan laporan jurnalis yang menggambarkan secara lengkap dan obyektif sosok setiap cabup/cawabup di tiga kabupaten, harapan itu tidak terpenuhi.
 
Sudah tentu terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa hasil pengamatan di atas mencerminkan kecenderungan pemberitaan suratkabar tentang Pemilukada 2010 di tiga kabupaten Provinsi DI Yogyakarta. Agar sampai kepada kesimpulan seperti itu, masih perlu pengamatan lebih menyeluruh  dengan mengamati pula suratkabar lain yang sama-sama terbit di Yogyakarta serta beredar di tiga kabupaten di mana Pemilukada 2010 diselenggarakan.      
 
Tapi hasil pengamatan di atas setidaknya mengisyaratkan bahwa laporan mengenai sosok calon memang perlu lebih banyak disajikan suratkabar. Dengan laporan semacam itu, suratkabar secara ideal diharapkan bisa membantu pembaca menjadi pemilih yang cerdas dan rasional dalam pemilukada.(rondang pasaribu)



Berlangganan


Nama
Email
Permohonan Berlangganan
Berhenti Berlangganan
Cara mendapatkan NEWSLETTER LP3Y Silahkan mengisi form berlangganan diatas!
timREDAKSI

Penanggung Jawab :
Ashadi Siregar

Pemimpin Redaksi :
Slamet Riyadi Sabrawi

Redaksi :
Ismay Prihastuti, Dedi H. Purwadi, Agoes Widhartono, Rondang Pasaribu.

Sekretaris Redaksi :
W. Nurcahyo

Hit Counter

counters

Radio Suara LP3Y

Radio Suara LP3Y

LP3Y Youtube