Pemilukada di DIY 2010
Sukar Mengenali Calon Lewat Suratkabar
Pemilukada di tiga kabupaten Provinsi DI Yogyakarta, yaitu Bantul, Gunung Kidul, dan Sleman, yang diselenggarakan serempak 23 Mei 2010, telah usai. Meski ada pengamat yang menyatakan pemilukada
di ketiga kabupaten tersebut kurang greget (Lihat tulisan Bambang Purwoko, Pemilukada
Tanpa Greget, Kedaulatan
Rakyat, 21 Mei 2010, hal. 1), toh para
pemilih yang datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) telah menjatuhkan
pilihan.
Beragam alasan pemilih memberikan suara kepada
calon bupati/calon wakil bupati (cabup/cawabup) tertentu. Apapun alasan pemilih, paling tidak mereka
telah menggunakan hak politiknya secara aktif dalam proses demokrasi.
Secara ideal, pemilih seyogyanya menjatuhkan pilihan secara cerdas
dan rasional. Untuk itu, pemilih
memerlukan informasi lengkap mengenai sosok setiap calon, sehingga tidak semata-mata
terpikat oleh nama tenar, partai serta
kelompok masyarakat yang mendukung calon tersebut, visi dan misi serta program
yang akan dijalankan, dan lain-lain.
Salah satu sumber informasi yang mestinya bisa diandalkan adalah suratkabar. Suratkabar diharapkan bisa menyajikan informasi yang
lengkap dan obyektif
tentang sosok setiap calon. Di situlah peran suratkabar sebagai institusi pers yang
seyogyanya netral, diyakini mampu mendorong proses demokratisasi kehidupan
politik (lihat, Menuju Masyarakat
Kewargaan, LP3Y, 1999).
Sehubungan dengan itu, muncul pertanyaan: Apakah suratkabar menjadi sumber informasi
terandalkan bagi para pemilih untuk lebih mengenal sosok calon kepala daerah? Kepedulian
Instan
Sosok setiap calon
penting diketahui setiap pemilih sebagai dasar pertimbangan untuk menjatuhkan
pilihan, antara lain apakah calon mempunyai kemampuan,
jujur, adil, berpihak
kepada rakyat, tidak korupsi, dan
sebagainya. Pengetahuan semacam ini, yang bisa dibaca melalui rekam jejak (track record) setiap calon, menjadi
informasi pembanding untuk mengkritisi isi kampanye setiap calon biasanya hanya berisi hal-hal yang baik, janji yang enak didengar, angin surga.
Ambil sebagai misal,
semasa kampanye, ada calon yang berjanji akan lebih memerhatikan kaum difabel,
atau meningkatkan mutu pelayanan kesehatan terutama bagi rakyat kecil, dan
sebagainya. Bagi pemilih kritis, janji seperti itu jelas tidak akan dipercaya
begitu saja. Sederet keraguan akan
terbersit di benak masing-masing, antara lain: Apa jaminan bahwa janji itu akan
dipenuhi? Mengapa yang bersangkutan peduli terhadap kaum difabel, peduli atas
mutu pelayanan kesehatan bagi rakyat kecil? Apakah kepedulian itu sudah ada
sejak lama, yang bisa dibaca pada rekam jejak (track record)? Jangan-jangan kepedulian itu muncul secara
instan, hanya demi kepentingan meraih suara. Atau terpaksa peduli karena
digiring menandatangani kontrak politik, suatu kecenderungan yang marak
belakangan ini.
Dengan kata lain,
adanya keraguan atas kepedulian instan para calon menyebabkan pemilih
memerlukan informasi lengkap tentang sosok setiap calon. Informasi yang lebih lengkap tentang sosok
setiap calon bisa menjadi dasar untuk menilai secara kritis apakah terdapat
kesesuaian antara perbuatan dan janji-janji yang diumbar selama masa kampanye.
Dalam konteks itu,
maka pernyataan Suryatiningsih Budi Lestari, anggota KPUD Sleman, yang dilontarkan
seusai sosialisasi pemilukada terhadap kaum difabel, menarik disimak. Menurut Suryatiningsih, banyak kaum difabel
belum mengenal secara baik cabup/cawabup dalam pemilukada di Sleman (Kedaulatan Rakyat, 11 Mei 2010, hal. 4).
Pernyataan tersebut kiranya tidak hanya
berlaku bagi kaum difabel. Boleh jadi banyak pemilih lain yang bukan difabel
juga mengalami hal yang sama, yakni belum mengenal secara baik sosok
cabup/cawabup yang menjadi
kontestan dalam pemilukada. Ini sesuai dengan pendapat Bambang Purwoko yang disampaikan dalam
tulisannya yang telah disebut di atas.
Dikemukakan, salah satu penyebab pemilukada kurang greget adalah karena
banyak cabup/cawabup baru didengar namanya setelah resmi menjadi calon. Wajah
para calon juga cuma dikenal melalui baliho atau poster. Mereka tiba-tiba saja muncul menjadi
cabup/cawabup.
Pemilih yang belum mengenal sosok
cabup/cawabup jelas bisa ditemukan di tiga kabupaten – Bantul, Gunung Kidul,
Sleman – di mana Pemilukada 2010 diselenggarakan. Mereka adalah pemilih bebas dalam pengertian
tidak terikat pada partai, ideologi, atau kelompok pendukung cabup/cawabup
tertentu. Mereka inilah yang memerlukan informasi dimaksud.
Sudah tentu para
pemilih tidak harus mencari sendiri informasi tersebut. Tanpa harus menjadi corong cabup/cawabup
tertentu, suratkabar sebenarnya bisa menyajikan informasi yang lengkap dan
obyektif tentang sosok setiap calon.
Sosok dalam Berita
Untuk menjawab pertanyaan sebagaimana
dikemukakan di atas, dilakukan pengamatan terhadap pemberitaan Harian Kedaulatan Rakyat, terbitan tanggal 1 –
23 Mei 2010. Ada beberapa alasan mengapa untuk keperluan tulisan ini hanya
Harian Kedaulatan Rakyat yang
diamati. Pertama, hasil
pengamatan yang dijadikan titik tolak penyusunan tulisan ini tidak dimaksudkan
untuk membandingkan perbedaan antar suratkabar dalam memberitakan pemilukada di
ketiga kabupaten yang telah disebutkan, yaitu Bantul, Gunung Kidul, dan Sleman.
Seperti diketahui, ada tiga suratkabar terbitan Yogyakarta yang beredar di
Provinsi DI Yogyakarta, termasuk Kedaulatan Rakyat. Bahwa hanya Harian Kedaulatan
Rakyat yang diamati, lebih dilandasi pertimbangan subyektif untuk menemukan
kasus yang menjadi dasar pengembangan gagasan yang disampaikan melalui tulisan
ini.
Kedua, pemilukada di tiga kabupaten tersebut
diselenggarakan saat bersamaan, yaitu tanggal 23 Mei 2010. Masa kampanye
terbuka berlangsung 6 – 19 Mei 2010. Maka, rentang waktu tanggal 1 – 23 Mei
2010 kiranya memberi keleluasaan yang memadai bagi suratkabar seperti Kedaulatan
Rakyat untuk menyajikan laporan tentang sosok cabup/cawabup di ketiga
daerah pemilukada.
Ketiga, sebelum masa kampanye terbuka dimulai,
Kedaulatan Rakyat sudah menyediakan
satu halaman khusus (halaman 4) bertajuk Pemilukada 2010, memuat berita tentang
berbagai hal menyangkut pemilukada di ketiga kabupaten dimaksud. Jadi, pada satu halaman dimaksud, sekaligus
bisa dibaca berita tentang pemilukada di Sleman, Bantul, dan Gunung Kidul.
Keempat, halaman khusus Pemilukada 2010 pada Harian Kedaulatan Rakyat memuat
berita dengan topik beragam tentang pemilukada di tiga kabupaten, semisal kegiatan KPUD, diskusi yang diikuti berbagai kalangan terkait pemulukada, kegiatan maupun isi kampanye cabup/cawabup, dan lain-lain. Karena itu, mengingat
di Bantul tiga pasangan, di Gunung Kidul empat pasangan, sedang di Kabupaten
Sleman ada tujuh pasangan cabup/cawabup, menarik diamati
apakah halaman khusus Pemilukada 2010 suratkabar ini memberi ruang yang cukup
untuk memperkenalkan sosok setiap cabup/cawabup di setiap kabupaten.
Adapun yang diamati adalah berita terkait
setiap cabup/cawabup yang menjadi kontestan di tiga kabupaten, yang dibedakan
berdasarkan kategori isi sebagai berikut:
Informasi
Minim
Berdasarkan
pengamatan, halaman khusus Pemilukada 2010 Harian Kedaulatan Rakyat terbitan
1 – 23 Mei 2010 memuat 49 item berita yang termasuk ketiga kategori di atas, dengan
rincian sebagai berikut:
Mengacu hasil pengamatan di atas, ada dua hal yang perlu dicatat. Pertama, berita mengenai sosok setiap cabup/cawabup yang menjadi kontestan di setiap kabupaten sangat minim. Tiga berita tentang sosok cabup/cawabup di dua kabupaten hanya tentang kekayaan cabup/cawabup di kabupaten tersebut. Kedua, berita tentang visi, misi, dan program yang disampaikan para cabup/cawabup memperoleh porsi terbanyak. Artinya, isi berita yang termasuk kategori ini pada dasarnya hanya meneruskan apa yang disampaikan para calon kepada pemilih melalui kegiatan kampanye.Dengan kata lain, jika
diharapkan pada halaman khusus Pemilukada 2010 Harian Kedaulatan Rakyat terbitan
tanggal 1 – 23 Mei 2010, akan ditemukan
laporan jurnalis yang menggambarkan secara lengkap dan obyektif sosok setiap
cabup/cawabup di tiga kabupaten, harapan itu tidak terpenuhi.
Sudah tentu terlalu
dini untuk menyimpulkan bahwa hasil pengamatan di atas mencerminkan
kecenderungan pemberitaan suratkabar tentang Pemilukada 2010 di tiga kabupaten
Provinsi DI Yogyakarta. Agar sampai kepada kesimpulan seperti itu, masih perlu
pengamatan lebih menyeluruh dengan
mengamati pula suratkabar lain yang sama-sama terbit di
Tapi hasil pengamatan
di atas setidaknya mengisyaratkan bahwa laporan mengenai sosok calon memang
perlu lebih banyak disajikan suratkabar. Dengan laporan
semacam itu, suratkabar secara ideal diharapkan bisa membantu pembaca menjadi
pemilih yang cerdas dan rasional dalam pemilukada.(rondang pasaribu) |
||||||||||||||||||||



Untuk menjawab pertanyaan sebagaimana
dikemukakan di atas, dilakukan pengamatan terhadap pemberitaan Harian Kedaulatan Rakyat, terbitan tanggal 1 –
23 Mei 2010. Ada beberapa alasan mengapa untuk keperluan tulisan ini hanya
Harian Kedaulatan Rakyat yang
diamati. 