Mengajak Warga Bermedia
Dari Workshop Warga Bermedia
Pagi itu, tepatnya Rabu 19 Mei 2010, suasana di salah satu
tempat di Rumah Makan Numani, jalan Parangtritis,
Workshop ini mengundang warga yang berasal dari lima desa
yakni Desa Jambidan Kecamatan Banguntapan, Desa Wonolelo Kecamatan Pleret, Desa
Srihardono Kecamatan Pundong, Desa Gilangharjo Kecamatan Pandak, dan Desa
Mulyodadi Kecamatan Bambanglipuro. Kesemua desa tersebut berada di wilayah
Kabupaten Bantul,
Dua hari lamanya workshop ini berlangsung, 19-20 Mei. Selain
dihadiri peserta workshop, hadir juga wakil dari IDEA (Institute for
Development and Economic Analysis), Henindya Wisnuadji serta Retno Kustati
dari ASPPUK (Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil).
Pada kesempatan itu
mereka juga turut memaparkan secara garis besar tentang kegiatan apa saja yang
akan dilakukan selama program ini berlangsung, dua tahun ke depan.
Semula peserta yang diharapkan hadir berjumlah 30 orang
yakni 15 orang peserta mewakili koran warga dan 15 peserta untuk radio
komunitas (rakom). Namun pada hari pertama, para peserta tidak semuanya hadir.
Peserta media cetak atau koran warga hanya berjumlah 12 orang, sedangkan radio
komunitas 14 orang.
Hari pertama, acara dimulai dengan pengantar oleh Slamet
Riyadi, selaku project office. Selain pengantar dan pengenalan terhadap
program baru ini, Slamet Riyadi juga memaparkan program LP3Y yang akan
dilakukan selama dua tahun mendatang. Selajutnya, sesi pengenalan program, IDEA
dan ASPPUK diwakili oleh Henindya Wisnuadji dan Retno Kustati secara singkat
memaparkan rencana kegiatan dan peran serta lembaganya.
Setelah rehat, pemberian materi tentang pengenalan
jurnalistik dimulai. Ashadi Siregar selaku Direktur LP3Y menyampaikan secara
umum tentang teknik dasar Jurnalistik. Sedangkan Agoes Widhartono (staf LP3Y)
memaparkan secara singkat tentang “Apa itu Koran Warga”. Materi tentang “Apa
itu Radio Warga” disampaikan oleh Ibnu Sumarmo, ketua SIAR (Saluran Informasi
Akar Rumput) dan pengelola JRKY (Jaringan Radio Komunitas Yogyakarta dan radio
komunitas Malioboro).
Sesi pengenalan film dokumenter juga disampaikan oleh
Rabernir (pembuat film dokumen indie). Secara khusus, sesi pengenalan film
dokumenter ini disampaikan dengan tujuan, jika ada di antara peserta yang
tertarik untuk membuat film, pembicara akan membantu untuk mendampingi
pembuatannya. Alasannya karena film dokumenter merupakan salah satu bentuk
media warga, yang dapat dibuat oleh warga dan tentang komunitas warga itu
sendiri.
Media warga
Meskipun berbeda bentuk, media warga mempunyai ciri yang
sama yakni dari, oleh, dan untuk warga. Maksudnya, media warga dikerjakan oleh
warga, faktanya diambil dari kehidupan sosial warga. Media warga juga tidak
berorientasi mencari laba. Biasanya media warga ini sangat terbatas daya
jangkaunya.
Membuat koran warga memang tidak mudah. Seperti yang
disampaikan Agoes Widhartono, koran warga dibentuk dari teks kuat untuk sebuah
visi perubahan sosial. Jika tidak, mungkin saja koran warga akan terbit
beberapa kali saja dan bahkan berhenti total karena bosan dan atau kehabisan tenaga baik daya maupun dana.
Selain itu Agoes juga mengatakan bahwa membuat koran warga
memang banyak tantangannya. Hal ini disebabkan karena ada beberapa yang
dibutuhkan seperti misalnya; butuh keterampilan menulis, butuh pengorganisasian
dan proses (pencetakan dan pendistribusian). Namun koran warga juga punya
kelebihannya karena dikerjakan oleh tim, dan tidak individual.
Sedangkan untuk radio komunitas (rakom) hampir sama persis,
sebagai media warga tentu rakom juga butuh perangkat teknis seperti halnya
media cetak. Selain butuh alat seperti berdirinya menara dan perangkat komputer
sederhana untuk siaran, rakom juga butuh keterampilan siaran seperti halnya
jurnalis radio yang sering menyampaikan beritanya di radio komersil.
Jika koran warga dapat saja dengan mudah terbit tanpa ada
proses ijin yang harus dipenuhi, lain halnya dengan rakom. Proses atau prosedur
pendirian rakom harus memenuhi aturan yang dibuat oleh pemerintah, sesuai
dengan PP no 51/2005 Tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran
Komunitas.
Dalam tata cara dan persyaratan perizinan meliputi: a)
persyaratan administrasi antara lain berisi tentang tujuan pendirian serta
nama, visi, misi dan format siaran yang akan diselenggarakan serta susunan nama
para pengurus penyelenggaran penyiaran. b) program siaran yang meliputi uraian
tentang waktu siaran, sumber materi mata acara siaran dan khalayak siaran dan
c) data teknik penyiaran yang meliputi daftar inventaris sarana dan prasarana
yang akan digunakan, gambar tata ruang studio dan peta lokasi stasiun penyiaran
serta usulan saluran frekuensi dan kontur diagram yang diinginkan.
Itulah kiranya tentang dua media warga yang akan
diselenggarakan di
Rencana tindak lanjut
Parapeserta diajak untuk
membahas apa saja yang dibutuhkan jika ingin membuar media warga. Dari diskusi
dengan para peserta diharapkan tergali kebutuhan kebutuhan bersama untuk
membuat media warga tersebut.
Dari hasil diskusi yang dilakukan kelompok koran warga
teridentifikasi beberapa kebutuhan misalnya, kebutuhan infra struktur yang
meliputi; komputer, kamera, recorder, printer dan flash disk. Sedangkan
indentifikasi kebutuhan sumber daya manusia antara lain teknik menari informasi
dan teknik wawancara, operasional komputer, menulis berita, cara menulis
artikel, cara menata berita, penyuntingan dan organisasi penerbitan.
Untuk pemenuhan kebutuhan tersebut di atas akan
diselenggarakannya pelatihan sesuai kebutuhan yang terindentifikasi. Dari hasil
diskusi kelompok koran warga akan bertemu kembali pada Sabtu, 5 Juni mendatang
untuk melakukan pelatihan jurnalistik di kampus LP3Y.
Sedangkan untuk kelompok radio komunitas, rencana pertemuan berikutnya pada Kamis, 3 Juni 2010 dengan membahas tentang mekanisme perizinan rakom dengan mengundang KPID. Adapun tujuan mengundang KPID Yogyakarta dimaksudkan untuk mengetahui sesungguhnya prosedur perizinan yang benar. Karena selama ini banyak rakom yang telah mengudara tapi belum selesai mengurus perizinan yang dianggap “sulit” dan berbelit bagi pengurus rakom.
Motivasi kuatPada kesempatan terakhir acara workhsop Warga bermedia ini, Ashadi Siregar selaku Direktur LP3Y menyampaikan beberapa hal yang perlu diingat oleh para peserta, antara lain, bermedia memang bukan pekerjaan sambil lalu. Oleh karena itu dalam perencanaan baik itu membuat koran warga ataupun radio komunitas, dibutuhkan orang atau anak muda yang bersedia punya motivasi kuat untuk penerbitan. “Tidak hanya itu, untuk radio komunitas, dari lingkungan
warga juga dibutuhkan stakeholderyang mendukung kepentingan berdirinya
rakom. Hal ini disebabkan karena rakom membutuhkan pengampu kepentingan,
pengelola teknis dan pengelola pendukung. Dapat dibayangkan untuk izin
mendirikan rakom dibutuhkan 250 orang pendukung di komunitasnya,” kata Ashadi.
Setiap rakom memang punya sejarah sendiri-sendiri. Namun
setidaknya jika rakom sudah berdiri sebaiknya membangun jaringan. Pengajuan
izin ke KPID mungkin akan lebih mudah jika sudah terbangun jaringan secara
kolektif. Untuk itu menurut Ashadi, kiranya butuh bersama-bersama saling
mendukung agar media warga dapat terwujud di desa masing-masing. Semoga. (may)
|
|



Media warga yang diusung melalui workshop ini dikenalkan
dalam beberapa berbentuk. Dalam bentuk cetak seperti biasa disebut koran warga
(community newspaper), dapat juga berbetuk suara (elektronik) seperti
radio komunitas dan dapat juga berupa audi visual, seperti halnya film
dokumenter.
Pada hari kedua peserta dibagi menjadi dua kelompok.
Kelompok media cetak difasilitatori oleh Dedi Purwadi dan Rondang Pasaribu.
Sedangkan kelompok Radio Komunitas didampingi oleh Agoes Widhartono dan Ibnu
Sumarmo.