-Newsletter
              EDISI 17/Mei 2010


Dapur Info
E-mail PDF Print Share on Facebook

Mengajak Warga Bermedia

Dari Workshop Warga Bermedia



Pagi itu, tepatnya Rabu 19 Mei 2010, suasana di salah satu tempat di Rumah Makan Numani, jalan Parangtritis, Yogyakarta tampak ramai. Itulah hari pertama Workshop Warga Bermedia yang diselenggarakan LP3Y, dalam mengawali kegiatan program Kolaborasi LP3Y-IDEA ASPPUK.

 
Workshop ini mengundang warga yang berasal dari lima desa yakni Desa Jambidan Kecamatan Banguntapan, Desa Wonolelo Kecamatan Pleret, Desa Srihardono Kecamatan Pundong, Desa Gilangharjo Kecamatan Pandak, dan Desa Mulyodadi Kecamatan Bambanglipuro. Kesemua desa tersebut berada di wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Dua hari lamanya workshop ini berlangsung, 19-20 Mei. Selain dihadiri peserta workshop, hadir juga wakil dari IDEA (Institute for Development and Economic Analysis), Henindya Wisnuadji serta Retno Kustati dari ASPPUK (Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil).
 
Pada kesempatan itu mereka juga turut memaparkan secara garis besar tentang kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama program ini berlangsung, dua tahun ke depan.
 
Semula peserta yang diharapkan hadir berjumlah 30 orang yakni 15 orang peserta mewakili koran warga dan 15 peserta untuk radio komunitas (rakom). Namun pada hari pertama, para peserta tidak semuanya hadir. Peserta media cetak atau koran warga hanya berjumlah 12 orang, sedangkan radio komunitas 14 orang.
 
Hari pertama, acara dimulai dengan pengantar oleh Slamet Riyadi, selaku project office. Selain pengantar dan pengenalan terhadap program baru ini, Slamet Riyadi juga memaparkan program LP3Y yang akan dilakukan selama dua tahun mendatang. Selajutnya, sesi pengenalan program, IDEA dan ASPPUK diwakili oleh Henindya Wisnuadji dan Retno Kustati secara singkat memaparkan rencana kegiatan dan peran serta lembaganya.
 
Setelah rehat, pemberian materi tentang pengenalan jurnalistik dimulai. Ashadi Siregar selaku Direktur LP3Y menyampaikan secara umum tentang teknik dasar Jurnalistik. Sedangkan Agoes Widhartono (staf LP3Y) memaparkan secara singkat tentang “Apa itu Koran Warga”. Materi tentang “Apa itu Radio Warga” disampaikan oleh Ibnu Sumarmo, ketua SIAR (Saluran Informasi Akar Rumput) dan pengelola JRKY (Jaringan Radio Komunitas Yogyakarta dan radio komunitas Malioboro).
 
Sesi pengenalan film dokumenter juga disampaikan oleh Rabernir (pembuat film dokumen indie). Secara khusus, sesi pengenalan film dokumenter ini disampaikan dengan tujuan, jika ada di antara peserta yang tertarik untuk membuat film, pembicara akan membantu untuk mendampingi pembuatannya. Alasannya karena film dokumenter merupakan salah satu bentuk media warga, yang dapat dibuat oleh warga dan tentang komunitas warga itu sendiri.

 

Media warga

Media warga yang diusung melalui workshop ini dikenalkan dalam beberapa berbentuk. Dalam bentuk cetak seperti biasa disebut koran warga (community newspaper), dapat juga berbetuk suara (elektronik) seperti radio komunitas dan dapat juga berupa audi visual, seperti halnya film dokumenter.

Meskipun berbeda bentuk, media warga mempunyai ciri yang sama yakni dari, oleh, dan untuk warga. Maksudnya, media warga dikerjakan oleh warga, faktanya diambil dari kehidupan sosial warga. Media warga juga tidak berorientasi mencari laba. Biasanya media warga ini sangat terbatas daya jangkaunya. 
 
Membuat koran warga memang tidak mudah. Seperti yang disampaikan Agoes Widhartono, koran warga dibentuk dari teks kuat untuk sebuah visi perubahan sosial. Jika tidak, mungkin saja koran warga akan terbit beberapa kali saja dan bahkan berhenti total karena bosan dan atau  kehabisan tenaga baik daya maupun dana.
 
Selain itu Agoes juga mengatakan bahwa membuat koran warga memang banyak tantangannya. Hal ini disebabkan karena ada beberapa yang dibutuhkan seperti misalnya; butuh keterampilan menulis, butuh pengorganisasian dan proses (pencetakan dan pendistribusian). Namun koran warga juga punya kelebihannya karena dikerjakan oleh tim, dan tidak individual.
 
Sedangkan untuk radio komunitas (rakom) hampir sama persis, sebagai media warga tentu rakom juga butuh perangkat teknis seperti halnya media cetak. Selain butuh alat seperti berdirinya menara dan perangkat komputer sederhana untuk siaran, rakom juga butuh keterampilan siaran seperti halnya jurnalis radio yang sering menyampaikan beritanya di radio komersil.
 
Jika koran warga dapat saja dengan mudah terbit tanpa ada proses ijin yang harus dipenuhi, lain halnya dengan rakom. Proses atau prosedur pendirian rakom harus memenuhi aturan yang dibuat oleh pemerintah, sesuai dengan PP no 51/2005 Tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Komunitas.
 
Dalam tata cara dan persyaratan perizinan meliputi: a) persyaratan administrasi antara lain berisi tentang tujuan pendirian serta nama, visi, misi dan format siaran yang akan diselenggarakan serta susunan nama para pengurus penyelenggaran penyiaran. b) program siaran yang meliputi uraian tentang waktu siaran, sumber materi mata acara siaran dan khalayak siaran dan c) data teknik penyiaran yang meliputi daftar inventaris sarana dan prasarana yang akan digunakan, gambar tata ruang studio dan peta lokasi stasiun penyiaran serta usulan saluran frekuensi dan kontur diagram yang diinginkan.
 
Itulah kiranya tentang dua media warga yang akan diselenggarakan di lima desa. LP3Y akan mengadvokasi pembentukan kedua jenis media warga itu di lima desa tersebut. Media cetak atau koran warga akan dibuat oleh gabungan dari lima warga desa yang ditunjuk untuk membuat satu koran warga. Sedangkan rakom diharapkan di tiap-tiap desa akan berdiri. Bagi desa yang sudah terbentuk rakomnya, LP3Y akan mengadvokasi untuk proses perizinan dengan dibantu KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah) Yogyakarta.

 

Rencana tindak lanjut

Pada hari kedua peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok media cetak difasilitatori oleh Dedi Purwadi dan Rondang Pasaribu. Sedangkan kelompok Radio Komunitas didampingi oleh Agoes Widhartono dan Ibnu Sumarmo.

Parapeserta diajak untuk membahas apa saja yang dibutuhkan jika ingin membuar media warga. Dari diskusi dengan para peserta diharapkan tergali kebutuhan kebutuhan bersama untuk membuat media warga tersebut.
 
Dari hasil diskusi yang dilakukan kelompok koran warga teridentifikasi beberapa kebutuhan misalnya, kebutuhan infra struktur yang meliputi; komputer, kamera, recorder, printer dan flash disk. Sedangkan indentifikasi kebutuhan sumber daya manusia antara lain teknik menari informasi dan teknik wawancara, operasional komputer, menulis berita, cara menulis artikel, cara menata berita, penyuntingan dan organisasi penerbitan.
 
Untuk pemenuhan kebutuhan tersebut di atas akan diselenggarakannya pelatihan sesuai kebutuhan yang terindentifikasi. Dari hasil diskusi kelompok koran warga akan bertemu kembali pada Sabtu, 5 Juni mendatang untuk melakukan pelatihan jurnalistik di kampus LP3Y.

Sedangkan untuk kelompok radio komunitas, rencana pertemuan berikutnya pada Kamis, 3 Juni 2010 dengan membahas tentang mekanisme perizinan rakom dengan mengundang KPID. Adapun tujuan mengundang KPID Yogyakarta dimaksudkan untuk mengetahui sesungguhnya prosedur perizinan yang benar. Karena selama ini banyak rakom yang telah mengudara tapi belum selesai mengurus perizinan yang dianggap “sulit” dan berbelit bagi pengurus rakom.

 

Motivasi kuat

Pada kesempatan terakhir acara workhsop Warga bermedia ini, Ashadi Siregar selaku Direktur LP3Y menyampaikan beberapa hal yang perlu diingat oleh para peserta, antara lain, bermedia memang bukan pekerjaan sambil lalu. Oleh karena itu dalam perencanaan baik itu membuat koran warga ataupun radio komunitas, dibutuhkan orang atau anak muda yang bersedia punya motivasi kuat untuk penerbitan.

“Tidak hanya itu, untuk radio komunitas, dari lingkungan warga juga dibutuhkan stakeholderyang mendukung kepentingan berdirinya rakom. Hal ini disebabkan karena rakom membutuhkan pengampu kepentingan, pengelola teknis dan pengelola pendukung. Dapat dibayangkan untuk izin mendirikan rakom dibutuhkan 250 orang pendukung di komunitasnya,” kata Ashadi.
 
Setiap rakom memang punya sejarah sendiri-sendiri. Namun setidaknya jika rakom sudah berdiri sebaiknya membangun jaringan. Pengajuan izin ke KPID mungkin akan lebih mudah jika sudah terbangun jaringan secara kolektif. Untuk itu menurut Ashadi, kiranya butuh bersama-bersama saling mendukung agar media warga dapat terwujud di desa masing-masing. Semoga. (may)

 

 




Berlangganan


Nama
Email
Permohonan Berlangganan
Berhenti Berlangganan
Cara mendapatkan NEWSLETTER LP3Y Silahkan mengisi form berlangganan diatas!
timREDAKSI

Penanggung Jawab :
Ashadi Siregar

Pemimpin Redaksi :
Slamet Riyadi Sabrawi

Redaksi :
Ismay Prihastuti, Dedi H. Purwadi, Agoes Widhartono, Rondang Pasaribu.

Sekretaris Redaksi :
W. Nurcahyo

Hit Counter

counters

Radio Suara LP3Y

Radio Suara LP3Y

LP3Y Youtube